Utama

Butuh Figur Berjiwa Industri, Bukan Waralaba

* Songsong Pilkada Tator-Torut

RANTEPAO — Usai pilpres dan pileg 2019 ini, kembali kita akan disibukkan dengan akan digelarnya Pilkada Serentak Tahun 2020. Dua daerah di Toraja, Tana Toraja dan Toraja Utara akan menggelar pemilihan kepala daerah dan wakil kepala daerah (Pilkada) serentak. Saat ini, sudah banyak figur yang menyatakan diri ingin maju, “pulang kampung”, dan berniat mengikuti kontestasi politik lima tahunan tersebut.

Namun, sejauh ini, belum ada bakal calon bupati maupun wakil bupati yang menawarkan ide-ide cemerlang untuk membangun Tana Toraja dan Toraja Utara lima tahun ke depan, sehingga kondisinya bisa lebih baik dari hari ini.

Menurut Ketua Ikatan Keluarga Toraja (IKAT) Yogyakarta, Cornel Guling, Toraja membutuhkan pemimpin yang berjiwa industri, bukan waralaba. “Harus “bupati industri” bukan bupati … (menyebutkan dua jenis usaha waralaba),” kata Cornel dilansir dari karebatoraja.com, Sabtu, 15 Juni 2019.

Konsultan pajak ini menjelaskan, yang dimaksud dengan “bupati industri” adalah bupati yang memiliki jiwa entrepreneur, mampu mengelolah Toraja dengan segala yang dimilikinya sehingga bisa menghasilkan uang untuk pembangunan dan kesejahteraan rakyat.

“Bupati industri akan berpikir bagaimana menambah atau mendatangkan uang untuk membangun, tidak sekedar menunggu anggaran dari pemerintah pusat melalui DAU dan DAK,” jelasnya.

Menurut Cornel, peluang untuk menambah dana dari pemerintah pusat di Toraja sangat-sangat banyak. Tinggal bagaimana seorang bupati berpikir untuk mengelolahnya. “Bagaimana dia berpikir mendatangkan investor, menghadirkan pemerintah yang melayani, cepat, transparan dan akuntabel. Investor tidak mau kalau urusannya berbelit-belit,” kata Cornel.

Berbeda dengan “bupati waralaba”, dimana barang-barangnya sudah ada, harga sudah ada, tinggal menjualnya saja. Bupati jenis ini hanya mengharapkan uang dari pemerintah pusat atau provinsi tanpa berusaha mengembangkan potensi-potensi di daerahnya untuk menambah uang dari pemerintah pusat itu.

“Kalau tipe seperti itu, semua orang bisa. Apa susahnya, sudah ada uang dari pemerintah pusat, tinggal menggunakannya saja. Tidak perlu titel tinggi-tinggi untuk jadi bupati,” katanya.

Cornel menyebut, salah satu perkembangan Toraja yang lambat adalah para pemimpin yang kurang bisa menggali potensi dan mengembangkannya. Minimnya investor yang masuk ke Toraja menjadi penyebab tingginya tingkat pengangguran dan minimnya lapangan kerja.

“Jadi, menurut saya, kalau Toraja mau maju, pemimpinnya harus berjiwa industri, bukan waralaba,” pungkasnya. (int/idr)

Click to comment

Most Popular

To Top