FEMALE

Terus Berkarya dan Berprestasi

Sukawati Umar, S.Pd, M.Si, M.Pd
Kepsek SMPN 6 Palopo

Dibalik istri yang sukses, ada suami yang mendukung. Motivasi dari keluarga menjadi penyemangat nomor satu dalam bekerja. Inilah yang dipegang teguh Sukawati Umar, S.Pd, M.Si, M.Pd, Kepala Sekolah SMPN 6 Palopo.

Kandidat doktor administrasi publik Universitas Negeri Makassar (UNM) ini mengungkapkan, kecintaannya dengan pendidikan membuatnya ingin terus berkarya dan menciptakan banyak prestasi melalui ide yang kreatif. Ide tersebut kemudian diimplementasikan di dalam pekerjaannya sebagai kepala sekolah.

Selama 14 tahun sebagai Wakil Kepala Sekolah di SPMN 1 Palopo, banyak ide dan gagasan yang telah ia ciptakan di sana. Kemudian, setahun terakhir ini, ia baru naik jabatan, diangkat menjadi Kepala Sekolah di SMPN 6 Palopo. Ia pun kini bisa “lari kencang” menerapkan ide-ide yang selama ini banyak terpendam.

Baru setahun lebih di SMPN 6, ia pun berhasil membawa SMPN 6 Juara 1 Lomba Gerak Jalan 17 Agustus tingkat SMP Kota Palopo, lalu Juara 1 invitasi bola basket putri tingkat SMP se-Sulsel, dan masih banyak lagi prestasi. Perlahan ia mulai mengikis imej buruk tentang SMPN 6 di masyarakat, menggantikannya dengan mencetak prestasi-prestasi.

“Seumur-umur, kata orang tua siswa dan masyarakat, SMPN 6 bisa juara 1. Alhamdulillah, perlahan imej di masyarakat akan sekolah ini kita kikis,” ujarnya saat ditemui Palopo Pos, Jumat 5 Juli 2019 di kantornya.

Ia mengungkapkan, saat pertamakali masuk di SMPN 6, ia melihat banyak hal yang harus dibenahi. “Kerja keras saya di sini. Itu yang saya tanamkan. Perlahan kita benahi satu-persatu,” sambungnya.

Awal mulanya bertugas di SMPN 6, ia menceritakan, masih banyak siswa yang datang terlambat. Hampir ada 100 siswa. Ia pun berpikir keras jalan keluarnya, agar yang datang terlambat tidak ada lagi. Kemudian, ia pun menerapkan sistem tutup pagar. Namun, cara ini ternyata tidak tepat.

Selanjutnya, ia mendapat ide, bagi yang terlambat di dudukkan di pekarangan sekolah sambil menuliskan kata “Saya Terlambat” sebanyak 600 kali. Kalau datang lagi terlambat keesokan harinya ditambah jadi 700 kata. Lama kelamaan, tidak ada lagi yang datang terlambat.

Selain itu, ia juga perlahan menerapkan larangan siswa membawa motor datang ke sekolah. Cara yang ia lakukan adalah dengan memaksimalkan bus sekolah menjemput siswa. “Kebanyakan siswa di sini ada dari atas (Bastem, Latuppa). Jadi saya minta pak sopir tolong jemput,” ujarnya.

Sibuk mengurus ratusan siswa, bukan berarti ia tidak memikirkan keluarga. Justru, keluarga ia nomor satukan. “Antara karir dan keluarga, saya utamakan itu keluarga. Dukungan suami sangat berarti bagi saya. Luar biasa dukungannya, bahkan sampai saat ini menyelesaikan kandidat doktor pun, suami yang mendukung,” ungkap ibu dari empat anak ini.

Bahkan, bapak (suami,red) rela untuk tidak pindah tugas demi mendukung keluarga. “Bapak itu kan di swasta pimpinan cabang Intan Pariwara membawahi Luwu Raya dan Toraja, mau ditarik ke pusat membawahi Indonesia Timur, tapi, ia minta keringanan tidak dipindahkan,” terangnya.(idr)

Click to comment

Most Popular

To Top