Toraja

Tari Pa’gellu’Tua Ditampilkan di Event Toraja Internasional Festival (TIF)

RANTEPAO-Toraja Internasional Festival yang memasuki tahun ke tujuh digelar di Obyek wisata Ke’te Kesu’, salah satu yang ditampilkan dievent tersebut adalah Tarian Gellu’ Todolo (Tarian tua) dimana sangat disambut baik oleh ratusan penonton .

Tarian Gellu’ Todolo yang ditampilkan di Event Toraja International Festival 2019, dikenal dengan nama Tari Pagellu Tua. Tarian Gellu’ Todolo ini menampilkan 12 Ragam Gerak. Ke-12 ragamgerak yang ada dalam Gellu’ Todolo ini memiliki makna atau simbol Falsafah Hidup yang berlaku dalam Masyarakat Toraja

Koordinator Tari Pa’gellu’ tua, Hesty Nona Pallangan kepada Palopo Pos, Sabtu malam, 20 Juli 2019 katakan bahwa, intinya dia ingin memperlihatkan ke generasi muda tentang tari Gellu’ Todolo yang merupakan akar dari semua tarian-tarian yang sedang berkembang di Toraja ini, sama seperti perkataan Narasumber saya saat penelitian tentang tari Pa’gellu’ Todolo Toraja 20 tahun yg lalu untuk skripsi saya.

“Narasumber saya saat itu katakan bahwa kami tidak menentang pembuatan kreasi garapan itu, namun silahkan dikreasikan dengan baik, kembangkan dengan baik lalu diberi nama lain, jangan tetap disebut Pa’gellu’, karena sejatinya gerakan tari kreasi yang ditampilkan bukan Pa’gellu’ atau bukan tarian Pa’gellu’ asli atau bukan tarian Pa’gellu’yang sesuai dengan yang diturunkan turun temurun yang diwariskan dari nenek moyang kita orang Toraja,”terang Hesty Nona Pala’langan.

Lanjut Hesty, silahkan bikin kreasi pengembangan karena memang ilmu kebudayaan seni budaya itu berkembang, iya kita itu inovatif boleh, tapi jangan sampai kebablasan.

“Adek-adek seniman, semua seni tari silahkan menggarap karya, silahkan berkreasi tapi tetap kita punya satu standar, atau kita punya satu nilai budaya kita dimana yang asli jangan ditinggalkan. Sehingga nantinya disaat kita ditanya mana tarian aslimu, mana budayamu, mana kearifan lokal aslimu, maka kita mampu menampilkan tari Pa’gellu’ tua, dimana seiring dengan itu kita sibuk-sibuknya menciptakan tarian kreasi,” pungkas Alumni S1 Seni Tari Universitas Negeri Jakarta (UNJ) Ini.

Masih kata hesty, sayapun sebagai koreografer tidak luput dari satu kritik dalam pada saat saya membuat satu tari garapan dan itu saya jadikan sebagai masukan, dimana masukan-masukan tersebut membuat saya berpikir bagaimana cara saya melangkah kedepannya lagi untuk menggarap karya yang lebih baik yang tentunya sesuai rambu-rambu kearifan lokal budaya kita yang kita tidak tinggalkan, kunci Hesty Alumni Seni Tari Institut Kesenian Jakarta (IKJ). (albert)

Click to comment

Most Popular

To Top