Utama

Warga Asal Luwu Raya Aman

* Rusuh di Papua, Pemerintah Sebut Sudah Kondusif

PALOPO — Papua mencekam. Kekacauan terjadi dimana-mana. Lantaran dipicu persoalan mahasiswa Papua yang ada di Surabaya, dan Malang. Imbasnya warga pendatang di Tanah Papua, jadi sasaran.

Dari sejumlah postingan video kerusuhan Papua yang didapat Palopo Pos, ratusan warga Papua terlihat bentrok dengan warga pendatang. Salah satunya terjadi di Kampung Bugis, daerah Wosi, Manokwari, Papua Barat.

Dari video tersebut, massa terlihat baku lempar batu dengan pendatang asal Sulsel. Selain itu, massa juga membakar sejumlah bangunan bank, dan pertokoan, serta memblokir jalan utama.

Tak sampai di situ, Kantor DPRD Provinsi Papua Barat juga dibakar massa. Sejumlah fasilitas juga ikut dibakar dalam gelombang aksi yang digelar merespons situasi di Surabaya.

Sementara itu, Ketua Badan Pengurus Wilayah (BPW) Kerukunan Keluarga Sulawesi Selatan (KKSS) Provinsi Papua, Dr H Mansur M, SH., MH., mengatakan, dirinya sangat prihatin dengan kejadian di Malang dan Surabaya.

Untuk itu, ia meminta kepada warga Makassar dan aparat keamanan di Kota Makassar, untuk tidak melakukan hal yang sama terhadap mahasiswa Papua di Makassar.

“Saya memohon kepada warga kota Makassar ikut membantu adek – adek kita mahasiswa Papua di Makassar. Jangan lakukan seperti di Surabaya, ini dapat menimbulkan sesuatu yang negatif,” tegasnya.

“Jagaki saudara-saudara Papua kita di Makassar,” imbau dr Mansyur.
Saat ini kata dia, warga KKSS khususnya di Kota Jayapura Provinsi Papua, masih aman terkendali.

“Warga KKSS di sini masih aman, dan kami imbau warga KKSS untuk tidak keluar rumah menghindari aksi. Kalau tidak ada keperluan yang mendesak, di dalam rumah saja,” ujar dr Mansur.

Ia menambahkan, saat ini sudah ada kurang lebih 10.000 masyarakat Papua turun ke jalan di kota Jayapura, sementara menuju ke kantor Gubernur Papua.

Sementara itu, salah seorang warga Manokwari, Ishak mengatakan situasi kembali mencekam meskipun sebelumnya sempat mereda. “Kantor DPRD Provinsi Papua Barat dibakar di Jalan Siliwangi,” kata Ishak, Senin (19/8).
Dia mengatakan aparat kepolisian di sekitar lokasi belum bisa mengendalikan situasi.

“Aparat ada, tapi tidak bisa bergerak. Situasi mencekam, tadi sempat sepi tapi kembali mencekam,” ujarnya.

Warga setempat berusaha menghindari provokasi. Sementara sejumlah warga dari luar Papua melindungi diri.

“Tetangga kami banyak juga pendatang, kami berupaya melindungi. Di pusat kota, warga diimbau jangan keluar toko,” ujarnya.

Salah seorang warga pendatang, Edi Hartanto tak berani keluar rumah di Manokwari. Dia mendapat imbauan itu dari aparat setempat dan sejumlah rekan.

“Untuk sementara masyarakat dilarang keluar rumah, apalagi yang pendatang, setelah kejadian kemarin di Surabaya ada tindakan rasis itu, kemudian ada aksi balasan (di Manokwari),” kata Edi.

Selain sejumlah fasilitas di atas yang dibakar, Bandara Domine Eduard Osok di Kota Sorong juga dibakar massa. Nampak dari video yang diterima Palopo Pos, para penumpang harus dievakuasi ke areal parkir pesawat lantaran massa sudah membakar gedung terminal.

Hingga kini pihak kepolisian belum memberikan penjelasan terkait aksi di Manokwari pagi ini.

Sebelumnya, situasi mencekam terjadi di Asrama Papua, Surabaya. Sebanyak 43 mahasiswa Papua dibawa ke Markas Kepolisian Resor Kota Besar (Mapolrestabes) Surabaya.

Mereka diangkut paksa oleh sejumlah aparat kepolisian dari asrama yang mereka tempati di Jalan Kalasan, Surabaya. Namun kini mereka telah dipulangkan aparat.

Gubernur Sesalkan

Gubernur Papua, Lukas Enembe menyesalkan ucapan rasis yang memicu kerusuhan di Manokwari, Senin (19/8/2019).

Lukas memohon kepada pemerintah dan seluruh warga bangsa untuk menahan diri dari tindakan dan ucapan rasis.

Dia menyentil pernyataan Wakil Wali Kota Malang, Sofyan Edi Jarwoko yang terkesan rasis. Sofyan sempat mengusulkan opsi mengusir mahasiswa Papua dari Malang.

Pernyataan itu disampaikan menyusul insiden bendera merah putih. Mahasiswa Papua diduga enggan mengibarkan bendera merah putih. Hal serupa diduga terjadi di Surabaya.

“Jangan memancing-mancing. Lebih baik pergi perang di Nduga sana,” kata Lukas Enembe dalam wawancara langsung yang disiarkan TvOne, Senin (19/8/2019).

Lukas juga menyesalkan, Indonesia sudah 74 tahun merdeka. Namun, sikap sebagian orang belum berubah.

Kondusif

Situasi sempat memanas tak terkendali.
Dari Jawa Timur, Gubernur Jatim Khofifah mengatakan, pihaknya bersama Forum Komunikasi Pimpinan Daerah sering berkomunikasi dengan mahasiswa Papua. Bahkan, mahasiswa Papua sering diundang dalam setiap-setiap acara penting di Jawa Timur.

“Komunikasi kami sangat intensif. Masing-masing harus bangun satu komitmen untuk menjaga NKRI, Pancasila, dan merah putih,” kata Khofifah. Gubernur Jatim pun mengajak semuanya untuk bersama-sama saling menghormati dan menghargai. Sebelumnya, kerusuhan pecah di Manokwari, Senin (19/8/2019), yang memicu pembakaran gedung DPRD Papua Barat.

Kini, sejumlah titik di Manokwari dilaporkan mulai kondusif. Salah satu warga Manokwari.(idr)

Click to comment

Most Popular

To Top