Utama

Hari ini, Maccera Tasi di Belopa

* Datu dan Raja-raja Juga Dijamu Bupati Luwu

BELOPA — Siang ini, Kabupaten Luwu menjadi tuan rumah salah satu agenda kegiatan Festival Keraton Nusantara (FKN) XIII, yaitu Maccera Tasi.
Ritual adat Kedatuan Luwu yang identik dengan pesta, sebagai ungkapan rasa syukur akan digelar di pesisir pantai Pelabuhan Ulo-ulo, Kota Belopa.

Kegiatan ini dihadiri langsung Yang Mulia Datu Luwu ke-40, H La Maradang Mackhulau Opu to Bau dan permaisuri, para raja/sultan utusan kerajaan/keraton se-Indonesia, juga para undangan peserta FKN ke XIII, dan segenap masyarakat Kabupaten Luwu.

“Alhamdulillah, persiapan sudah hampir rampung. Untuk kegiatan Maccera Tasi ini kita fokuskan di dua titik yaitu, di Pelabuhan Ulo-ulo dan di Rujab Bupati Luwu di Pammanu. Insyaa Allah, Selasa besok (pagi ini,red) kegiatan sudah bisa dilaksanakan,” ungkap Ketua Panitia Maccera Tasi, Andi Palanggi A Kaddiraja S.STP kepada media Palopo Pos, Senin kemarin.

Ritual Maccera Tasi ini dilaksanakan di tengah kontroversi sikap masyarakat. Dimana ada masyarakat yang meminta untuk tidak dilaksanakan karena berbau syirik. Namun demikian, Pemkab Luwu dan pihak panitia memberi garansi, dalam kegiatan tersebut sama sekali tidak ada aktivitas berbau syirik.

“Maccera tasi dalam Bahasa Indonesia diartikan sebagai pesta laut. Tetapi tidak ada sesajen ataupun melarung kepala kerbau ke laut. Di sana kita hanya akan melaksanakan prosesi pelepasan benih ikan dan pakannya,” kata Andi Palanggi belum lama ini, seraya mengatakan, prosesinya dimulai pukul 10:30- 11.30 Wita dengan mengitari ance (menara upacara adat) sebanyak tiga kali oleh Perahu Bajo dan Perahu Puawang.

Sebelumnya, pada Minggu (8/9) di Rujab Bupati Luwu di Pammanu, telah dilakukan penyembelihan hewan ternak 2 ekor kerbau. Namun demikian kepala kerbau itu sama sekali tidak dibawa ke laut melainkan langsung diberikan ke seksi konsumsi. Penyembelihan hewan ternak 2 ekor kerbau yang akan dimasak dan dihidangkan kepada para tamu kehormatan ini disaksikan langsung Bupati Luwu H Basmin Mattayang.

“Saya langsung memanggil Imam Kelurahan Tanamanai Belopa Ustaz Syamsul Tokambesse untuk menyembelih hewan kerbau ini. Dalam kesempatan ini pula saya tegaskan tidak ada ritual larung kepala kerbau ke laut. Kepala kerbau dan daging kerbau ini langsung kita berikan ke seksi konsumsi, ” ungkap Basmin seraya mengatakan penyembelihan dilakukan langsung Imam Lurah Tanamanai, Syamsul Tokambesse.

Informasi yang dihimpun Harian Palopo Pos, ritual Maccera’ tasi’ berasal dari dua kata, yaitu cera’ yang berarti darah dan tasi’ artinya laut. Dalam konteks kekinian, kegiatan tersebut betul-betul dijauhkan dari sifat berbau syirik.

“Kegiatan pesta laut Maccera’ tasi’ Tasi telah disesuaikan dengan aqidah dan Syariat Islam serta sesuai pula dengan kaidah adat Luwu yang mengatakan, Patuppui ri Ade’ E, Mupasanrei ri Syara’E, yang artinya, setiap tindakan dan kegiatan harus selalu ditumpukan pada adat didasarkan pada syariat agama Islam,” kata Asisten I Pemkab Luwu Andi Palanggi. (and/idr)

Click to comment
To Top