Utama

Maccera Tasi, Ungkapan Rasa Syukur Atas Nikmat Laut

BELOPA — Hari kedua pelaksanaan Festival Keraton Nasional (FKN) XIII dilakukan di Kota Belopa. Yakni, dengan menggelar ritual adat Macera Tasi.
Raja-raja yang berasal dari dalam dan luar negeri sejak pagi, telah berkumpul di Istana Kedatuan Luwu. Dengan pengawalan mobil Patwal dari Sat Lantas Polres Palopo, sebanyak tujuh bus yang mengangkut raja-raja bergerak ke Kota Belopa.

Di Belopa, acara Maccera Tasi digelar. Kegiatan ini disaksikan langsung Datu Luwu XL, La Maradang Andi Mackulau Opu To Bau bersama Bupati Luwu, H Basmin Mattayang, Dewan Adat 12 Tana Luwu dan raja-raja se-Nusantara, serta bangsawan dari luar neger di pantai Ulo-ulo, Belopa, Selasa 10 September 2019.

Sebelum melaksanakan prosesi Maccera Tasi, sebelumnya telah dilakukan Malekke Wae atau mengambil air upacara adat oleh Rombongan dipimpin, Andi Saddakati selaku Opu Arung Senga berangkat dari Baruga Arung Senga Kota Belopa menuju istana Kedatuan Luwu Kota Palopo, Jumat 6 September 2019 lalu, dengan membawa Gadis Pabbulaweng atau gadis yang belum aqil baliq (Tengna Wattepa Dara) yang bertugas memangku air.

Setelah itu, barulah dilanjutkan dengan prosesi Maccera’ Tasi yang kali ini berbeda dari sebelum-sebelumnya yakni, tidak lagi membuang kepala kerbau ke dalam laut melainkan hanya melakukan mengelilingi Ance yang merupakan perahu kecil mengapung di atas laut sebanyak 3 kali dan melakukan Azan pada 4 penjuru mata angin.

Terkait prosesi ini, Datu Luwu, La Maradang Andi Mackulau Opu To Bau memberikan amanah kepada Maddika Bua, Andi Syaifuddin Kaddiraja Opu To Sattiaraja untuk menyampaikan kepada masyarakat terkait prosesi Maccera Tasi yang tidak lagi mengandung unsur kesyirikan, melainkan telah disesuaikan dengan agama dan syariat Islam.

“Pada kesempatan kali ini, saya ingin menegaskan bahwasanya, Maccera Tasi itu berasal dari dua kata yaitu, Maccera yang bukan artinya darah melainkan ungkapan rasa syukur dan tasi’ sendiri mempunyai arti laut, jadi arti kata dari maccera tasi itu sendiri adalah bentuk atau ungkapan rasa syukur kita atas nikmat yang diberikan oleh Allah SWT utamanya dengan menghadirkan berbagai biota laut,” tegasnya.
Ia juga menyebutkan, kegiatan maccera tasi ini merupakan manifestasi masyarakat Luwu dengan pencipta dan makhluknya. “Kita mempunyai kewajiban sebagai manusia yaitu, senantiasa mensyukuri nikmat yang diberikan oleh Allah SWT baik di lautan maupun di daratan, kebetulan saja kita laksanakan di pinggir laut sehingga disebut maccera tasi, seandainya kita laksanakan di daratan sawah, maka disebut maccera ase,” paparnya.

Beberapa warga bangsawan dari berbagai negara yang sempat hadir di Maccera Tasi diantaranya HE. Rex William Sumner (United Kingdom England), Daniel Rafhael (Amerika), Mike Chang (Amerika), Natalia Zinsli (Switzerland), Alex Malorodov (Rusia), Lana Karenina – (Rusia), Kent William (Australia), Samuel (Australia), Dakota (Amerika).

Hadiah

Dari awal pagelaran Festival Keraton Nusantara (FKN) hingga yang ke XIII di Tana Luwu, inilah yang terbaik. Hal tersebut disampaikan langsung, Raja Samu Samu VI, Benny Ahmad yang mewakili Sekertaris Jendral Forum Komunikasi dan Informasi Keraton Nusantara (FKIKN), Gusti Raden Ayu Wandansari Koes Moertiyah dalam membawakan sambutan setelah mengikuti prosesi maccera tasi di pantai Uloulo Belopa, Kabuopaten Luwu, Selasa 10 September 2019.

Raja Samu Samu yang berasal dari Pulau Nusa Laut, Provinsi Maluku ini mengatakan hal tersebut setelah melakukan penilaian secara subjektif bahwa pada FKN XIII Tana Luwu ini dirinya melihat persatuan yang sangat erat terjalin antara para Raja dan Sultan serta organisasi-organisasi keraton seperti, Silaturahmi Nasional (Silatnas) Keraton, Forum Silaturahmi Keraton Nasional (FSKN), dan Forum Komunikasi dan Informasi Keraton Nusantara (FKIKN).

“Di FKN Tana Luwu ini, kita semua datang dan hadir dalam suatu acara yang sangat bersejarah, kita semua akur di dalamnya, meskipun kita berasal dari berbagai suku, adat, tradisi, maupun organisasi-organisasi yang berbeda, dari awal penyelenggaraan FKN hingga saat ini, FKN di Tana Luwu inilah yang terbaik, telah melampaui penyelenggara FKN terbaik sebelumya pada FKN ke VIII di Baubau,” kata Raja Benny.

Sementara itu, Bupati Luwu, H Basmin Mattayang dalam sambutannya menyebutkan, menyambut baik kedatangan para Raja dan Sultan bersama Permaisuri dan rombongan dengan sepengkal kata-kata puitis.

“Para Raja dan Sultan, serta Permaisuri dan rombongan kami mempersilahkan naik ke rumah kami, rumah ini tidak beralaskan tikar, namun hanya berlandaskan papan, sekalipun rumah ini tidak ada tikar, tetapi keterbukaan hati yang tulus kami sebagai pemilik rumah tidak akan lapuk dengan air, tidak akan lupuk dari Matahari, meskipun kita di tengah-tengah teriknya matahari,” paparnya.

Bupoti juga menyampaikan, rasa syukur dan terima kasihnya kepada Raja-raja dan Sultan beserta Permaisuri dan Rombongan. “Selamat datang di Tana Luwu, wanua mappatuo, na ewai alena,” sambutnya.
Setelah menyampaikan sambutannya, Datu Luwu ke 40, La Maradang Andi Mackulau Opu To Bau dan Bupati Luwu, H Basmin Mattayang dimintai untuk naik ke panggung oleh, Raja Samu Samu VI, Benny Ahmad. Dalam pertemuannya di atas panggung tersebut, Datu Luwu diberi sebuah pin pertanda persatuan dan persaudaraannya dengan Kerajaan Samu Samu.

Begitu pun juga kepada Bupati Luwu, ia diberi cincin hati oleh Raja Samu Samu sebagai pertanda persaudaraan dengan masyarakat Luwu. “Semoga dengan apa yang ada pada diri saya ini yang ku berikan, bisa menjadi bukti persaudaraan kita,” pungkas Raja Benny.(ali/idr)

Click to comment

Most Popular

To Top