Ragam

Peran Keraton dan Lembaga Adat dalam NKRI

* Dialog Budaya FKN XIII

PALOPO — Salah satu kegiatan Festival Keraton Nusantara (FKN) XIII Tana Luwu adalah dialog kebudayaan yang digelar di Saodenrae Convention Center (SCC).

Di hari pertama, Selasa 10 September 2019, kemarin, Prof Dr Nurhayati Rahman tampil sebagai narasumber dengan dipandu moderator Dr Muhaimin (Wakil Rektor IAIN Palopo).

Dalam penyampaiannya, Prof Dr Nurhayati Rahman yang merupakan Guru Besar Filologi Unhas menjelaskan, ada dua budaya yang mengisi Nusantara saat zaman dulu. Yakni budaya maritim, dan budaya agraris. Budaya maritim banyak ditemukan di beberapa suku yang mendiami dekat pesisir, seperti Bugis dan Tana Luwu.

Mereka kemudian berlayar dari pulau satu ke pulau yang lain. Tujuannya bukan hanya mencari ikan, tetapi kemudian mereka berinteraksi dengan pelbagai suku di Nusantara. “Ini membuktikan suku Bugis memiliki budaya yang terbuka,” kata Prof Dr Nurhayati Rahman, penerjemah buku I Lagaligo tiga jilid, kemarin di SCC.

Di kesempatan itu pula, ia banyak menyinggung soal kemiripan budaya Luwu dengan beberapa kerajaan di Nusantara. Seperti di Kepulauan Selayar, Kesultanan Bima.

“Sesuai buku I Lagaligo yang ditulis sekira abad ke-14, memang disinggung beberapa daerah. Diantaranya Selayar,” ujarnya.
Di kesempatan itu pula, Prof Nurhayati menyemangati peserta yang kebanyakan dari kalangan mahasiswa untuk mau menggunakan nilai-nilai budaya diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Ia mencontohkan bagaimana negara Korea Selatan yang tadinya hanya negara agraris termiskin di awal tahun 1960-an. Tapi, dengan semangat membangun bangsa dengan berlandaskan kulturalnya, mereka hanya mau menggunakan produk asli buatannya sendiri. Lalu, ada Jepang.

Meskipun Samurai telah punah, tetapi semangat Samurai diterjemahkan dalam kehidupan bernegara. Dimana kejujuran dan keberanian diterapkan. “Untuk itulah, hal ini perlu kita cangkok bagi generasi kita saat ini. Karena sudah jauh kita meninggalkan akar budaya,” sebutnya.

Ia melanjutkan, untuk revitaliasi budaya diperkirakan butuh dua generasi lagi. “Transformasi nilai tidak berlangsung, hanya sebatas simbol semata. Dan, ini membutuhkan waktu. Jadi jalan satu-satunya harus kita cangkok,” jelasnya.

Untuk mencangkok revitalisasi budaya, dijelaskan Prof Nurhayati harus memenuhi empat unsur. Yakni, harus ada tradisi budaya yang akan dilestarikan. Lalu, harus ada orang yang paham suatu tradisi, kalau tidak ada akan terputus. Selanjutnya, ada generasi muda yang mau melaksanakan, dan terakhir, ada masyarakat yang mau memanfaatkannya. “Bagaimana FKN XIII ini menjadi penjaga peradaban, merumuskan kembali dan mentransfer ke sekolah-sekolah,” pungkasnya.

Ditambahkan Wira Bumi dari Kesekretariatan FKIKN, mewakili Sekjen FKINK mengungkapkan, FKN pertama kali digelar tahun 1995 di zaman orde baru. Dengan tujuan hanya untuk menyambung silaturahmi antar keraton se-Nusantara. Di era ini, nasionalisme banyak mematikan kebudayaan. Ini harga yang mahal harus di bayar bangsa ke setiap kerajaan-kerajaan lama yang menyerahkan kedaulatannya ke NKRI.

“Bagaimana sekarang kita merevitalisasi nilai-nilai budaya sebelum terlambat. Setelah FKN XIII Tana Luwu ini, harus menjadi penyemangat. Bagaimana dari FKN ini nilai budaya diterapkan dan diakulturasi ke dalam perekonomian bangsa,” terangnya. (idr)



Click to comment

Most Popular

To Top