Ragam

Mahasiswi PAI IAIN Palopo Jadi Presenter di Konferensi Internasional, Ini yang Dipaparkan

PALOPO-Mahasiswi program studi Pendidikan Agama Islam (PAI) Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Palopo menjadi presenter pada konferensi Internasional yang digelar Universitas Cokroaminoto Palopo (UNCP). Konferensi ini diikuti 33 perguruan tinggi dari dalam dan luar negeri yang memaparkan materinya pada kegiatan International Conference on Natural and Social Sciences (ICONSS) II di New Hotel Palopo, 13-14 September 2019.

Dalam pemaparannya, Mahasiswi PAI, Aisyah Suparman yang didampingi Wakil Rektor 3 bidang kemahasiswaan dan kerjasama, Dr Muhaemin MA dan rekannya sesama mahasiswa, Muhammad Khaerullah Ilyas membahas tentang hasil penelitiannya yang berjudul Relation of Islam, Indigenius Peoples and Lokal Wisdom in Enrekang South Sulawesi yang memiliki arti hubungan Islam dengan kearifan lokal di Enrekang Sulawesi Selatan.

Menurut Aisyah, anak dari pasangan Suparman Mata Abadi dan Fatimah Suparman ini mengatakan, yang menarik dari penelitiannya tersebut yaitu kekentalan adat dan budaya leluhur yang masih bertahan hingga saat ini meskipun perkembangan industri 4.0 sudah sangat pesat.

“DI sana itu, kekentalan adat dan budaya leluhur mereka sangat kental sekali, tetapi mereka tidak ketinggalan dengan perkembangan teknologi industri 4.0, jaringan di sana sangat lancar meskipun berada di atas gunung dan sedikit terpencil,” kata Aisyah kepada Palopo Pos, Sabtu 14 September 2019 di kedai kopi Teras Agatis.

Ia juga menyebutkan, tradisi yang masih dijaga oleh masyarakat Enrekang terkhusus masyarakat di Desa Kaluppini, Lembang, dan Ranga yang menjadi objek penelitiannya yaitu perayaan maulid Nabi Muhammad SAW (damulu banua) atau Isra’ Mi’raj (ma’mici) yang diisi dengan pembacaan zikir sepanjang malam tanpa tidur. “Adat yang paling unik itu adalah Pangewaran yang merupakan ritual yang dilaksanakan selama 8 tahun sekali,” sebutnya.

Selain itu, juga terdapat peringatan 1 Muharram, perayaan Idul Fitri, dan Idul Adha yang setiap selesai pelaksanaan masyarakt Desa Kaluppini dan sekitarnya berkumpul di pemakaman untuk berziarah dan melakukan doa bersama. “Ini semua dilakukan di atas adat yang diwariskan oleh leluhur mereka tanoa adanya unsur kesyirikan dan sesuai dengan syariat agama,” tegas aktivis perempuan organisasi Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) yang lahir, 8 November 1997 ini.

Adapun yang mengikuti konferensi Internasional ini dibagi ke dalam 209 kelompok yang terlebih dulu pada pendahuluan kegiatan diisi oleh pembicara asal Universitas Gajah Mada dan perguruan tinggi dari luar negeri terdiri dari Faculty of Education Monash University (Australia), National University of Malaysia (Malaysia), Taylor University (Malaysia), dan Victoria University of Wellington (New Zealend).(ali)

Click to comment

Most Popular

To Top