Opini

Habibie, Sang Mata Air Ilmu dari Timur Nusantara.

(Catatan Seorang Akademisi)

Oleh: Dr. H. Muammar Arafat Yusmad, S.H.,M.H

(Dosen Fakultas Syariah IAIN Palopo)

Kuputar pikiran khayalan, imaji seluas angkasa. Berderet berbaris menyatu, coba untuk mencari tahu. Apakah gerangan yang bisa, kulakukan perjuangkan, untuk bangsa dan negara, Indonesiaku tercinta. Menjadi mata air yang terus mengalir selalu memberi karya terbaik bagi bangsa. Demikian sebait lirik lagu ‘Mata Air’ yang menjadi soundtrack film: Rudy Habibie

Membincang kiprah Presiden RI ke-3 Prof. Dr. Ing. B.J. Habibie seolah tak ada habisnya. Selalu ada sisi positif yang menuai beragam kebermanfaatan ketika mengeksplorasi kehidupan sosok Habibie sebagai seorang teknokrat, tokoh cendikiawan muslim, birokrat, negarawan, pemimpin keluarga yang harmonis, suami yang romantis dengan cinta sejatinya, dan masih banyak lagi, Betapa tidak, menurut kesaksian orang-orang yang dekat dengan kehidupannya, Habibie selalu membicarakan hal-hal positif terkait dengan topik perbincangan.

Sebait lirik lagu “Mata Air’ di atas menunjukkan bahwa Habibie adalah seorang visioner dengan imajinasi yang luas dan selalu memberi karya-karya terbaiknya bagi bangsa dan negara, Habibie mampu menjawab segala bentuk tantangan dan menentukan arah masa depan Indonesia pada masa-masa sulit di tengah negara dalam intaian bayang-bayang chaos dan ancaman disintegrasi bangsa.

Lebih dari dua kali penulis hadir dalam forum ilmiah yang menghadirkan B.J Habibie sebagai narasumber utama (keynote speaker). Dalam ceramahnya, Habibie seringkali menekankan tentang perlunya Indonesia memiliki sumber daya manusia (SDM) yang unggul di segala bidang agar daya saing nasional di mata dunia akan semakin meningkat. Kedekatan Habibie dengan dunia akademik tidak diragukan lagi. Sejumlah gelar Doktor Honoris Causa (Dr.H.C) telah diraihnya dari berbagai universitas ternama di dalam dan luar negeri.

Meski dunia teknokrat itu terkesan serius, namun tidak mengurangi sisi humanis dan jenaka seorang Habibie. Suatu ketika di bulan Mei 1991, usai memberikan kuliah umum di auditorium Unhas, Habibie diajak untuk mengunjungi danau buatan di Unhas Tamalanrea yang baru rampung. Setibanya di tepi danau, Habibie mendorong dua guru besar Unhas nyebur ke danau hingga basah kuyup. Kedua ‘korban’ Habibie itu adalah Prof. Achmad Amiruddin yang saat itu menjabat sebagai Gubernur Sulsel dan Prof. Makaminan Makagiansar mantan Dirjen Dikti. Rupanya keinginan untuk nyebur ke danau adalah bagian dari nasar Prof. Ahmad Amiruddin apabila pembangunan kampus Unhas Tamalanrea telah rampung.

Peran B.J. Habibie sebagai tokoh nasional semakin meluas dengan terpilihnya ia sebagai Ketua Umum Ikatan Cendikiawan Muslim Indonesia (ICMI) yang terbentuk pada tanggal 7 Desember 1990 di Kota Malang, Jawa Timur. ICMI adalah sebuah organisasi yang menghimpun para cendikiawan muslim dari berbagai kalangan di tanah air. Sebagai Ketua Umum ICMI, Habibie aktif melakukan kerjasama dengan Pemerintah, organisasi cendikiawan lain dan ormas-ormas untuk memelihara serta melestarikan persatuan dan kesatuan bangsa. Habibie selalu menekankan bahwa kehadiran ICMI tidak hanya untuk memperhatikan kepentingan umat Islam semata, tetapi berkomitmen untuk memperbaiki nasib seluruh bangsa Indonesia karena itu menjadi tugas utama ICMI.

Pada tahun 2006 B.J Habibie mendapatkan gelar kehormatan Dr.HC dalam bidang Teknologi dan Peradaban di Universitas Hasanuddin Makassar. Penulis hadir pada momen ilmiah bersejarah tersebut dan menyimak dengan seksama seluruh rangkaian prosesi inagurasi. Saat itu Prof. Halide sebagai Ketua Tim Promotor menyebutkan lima pertimbangan penganugerahan gelar akademik tertinggi yaitu: telah berjasa luar biasa bagi pengembangan IPTEK, budaya dan peradaban; memiliki kecemerlangan dan kemampuan intelektual yang tinggi; memiliki integritas keperibadian yang patut diteladani; dan berbudi pekerti luhur.

Selama berkiprah di dunia sains dan aeronautika, Habibie telah menghasilkan banyak penemuan dengan sekitar 46 hak paten. Temuannya yang paling terkenal adalah Crack Progression Theory. Teori ini memprediksi titik mula retakan pada sayap pesawat terbang dengan kalkulasi yang sangat akurat dan detail hingga ke titik atom.  Meskipun kokoh, keretakan sayap dapat terjadi karena seringnya pesawat mendapatkan guncangan saat lepas landas, mendarat dan turbulensi udara. Akibat penemuannya ini Habibie dijuluki “Mr. Crack”.

Sungguh B.J. Habibie adalah sosok yang inspiratif. Sebuah kebanggaan bagi warga Provinsi Sulawesi Selatan khususnya Kota Pare-Pare yang menjadi kota kelahiran seorang tokoh besar dunia. Pekan-pekan ini semua kalangan berbicara tentang Habibie. Negara bahkan dunia berduka dengan kepergian sosok lincah yang begitu fenomenal ini. Baharuddin Jusuf Habibie akan selalu dikenang sebagai Bapak Teknologi, Bapak Demokrasi, Bapak Keluarga, dan negarawan sejati yang patut diteladani. B.J. Habibie adalah orang pintar yang bersahaja. Doa-doa terbaik kami ucapkan untuk mengiringi kepergianmu, Lahu Al-Fatihah. (*)

Click to comment

Most Popular

To Top