Opini

Kemarau, Petani Kakao Menjerit

Dr Idawati, S.P.,M.Si
Dosen Agribisnis Fakultas Pertanian Unanda Palopo
Ketua LPM Unanda Palopo
S3 Penyuluhan Pembangunan FEMA, IPB University

Pengelolaan usaha tani kakao saat ini khususnya di Kabupaten Luwu dalam titik nadir yang mendebarkan. Perusahaan kakao yang ada di wilayah ini, siap membeli biji kakao mulai merasa kesepian saat-saat seperti ini.

Tenaga kerja perusahaan yang nota bene adalah masyarakat sekitar merasa terancam akan pemenuhan kebutuhan primernya apatah lagi petani kakao itu sendiri. Beberapa hasil penelitian tentang upaya adaptif terhadap dampak perubahan iklim dalam meningkatkan kapasitas individu petani telah banyak mencetak para ilmuwan-ilmuwan tetapi tindak nyata di lapangan masih sangat kurang dirasakan oleh petani.

Salah satu hasil penelitian disertasi tentang upayaadaptasi dengan dampak perubahan iklim adalah bagaimana beradaptasi dengan perubahan lingkungan biofisik tanaman itu sendiri, bagaimana memanajerial usaha tani dan lingkungan sosial budaya masyarakat demi mewujudkan usaha tani yang berkelanjutan.

Tujuan adaptif perubahan iklim di bidang pertanian dapat diwujudkan dengan peningkatan pengetahuan teknis dalam upaya pengembangan sumber daya manusia. Namun upaya pengembangan sumber daya manusia dalam bentuk pengetahuan teknis tidak akan efektif dalam menyelesaikan masalah petani tanpa melibatkan peran stakeholder secara multisektor dan berkelanjutan.

Penyelesaian dengan membahas sumber penyebab masalah dan pemberian solusi secara pengetahuan teknis, manajemen usaha tani melalui kemampuan manajerial, merencanakan, mengelola, mengontrol, mengevaluasi dan pendekatan yang berhubungan dengan sosial budaya.

Upaya ini dapat berpengaruh pada perubahan perilaku masyarakat yang sangat peka terhadap adat istiadat dan budaya yang dianut. Upaya ini merupakan tindakan adaptif yang mampu memahami kondisi sosial, budaya dan kemampuan ekonomi wilayah sasaran inovasi.

Kondisi yang ada di Kabupaten Luwu dan Luwu Utara menunjukkan bahwa kapasitas adaptif petani kakao dalam menghadapi fenomena perubahan iklim dalam kemampuan teknis masih rendah sedangkan kemampuan manajerial dan sosial budaya dalam ketegori tinggi.

Kapasitas adaptif petani dalam pengelolaan usaha tani kakao secara teknis budi daya, manajerial usaha dan sosial budaya dapat ditingkatkan/dikuatkan menjadi kapasitas adaptif dengan memperhatikan aspek-aspek yang memengaruhinya.

Aspek-aspek tersebut di antaranya meningkatkan dukungan penyuluhan pemerintah, swasta dan swadaya melalui perbaikan kemampuan penyuluh, intensitas kehadiran, metode dan materi yang berkaitan dengan adaptif dampak perubahan iklim.

Dukungan pemerintah dalam pelayanan informasi iklim dan ketersediaan modal usaha tani, saat pendapatan petani responden sangat rendah. Demikian pula karakteristik petani yang masih rendah dalam hal pendidikan non formal meskipun dalam skala waktu yang lama dalam berusaha tani tetapi tidak menerapkan inovasi teknis dan kelembagaan secara optimal bagi usaha taninya.

Implementasi operasional dari model penguatan kapasitas adaptif petani kakao dalam menghadapi fenomena perubahan iklim diperlukan strategi yang merupakan cara, teknik, taktik, dan langkah-langkah sistematis yang ditempuh dalam melaksanakan kegiatan untuk mendapatkan atau mencapai tujuan atau hasil maksimal yang diharapkan.

Upaya adaptif daerah yang dimulai dari individu petani yang diharapkan dapat memberikan arahan terpadu bagi berbagai pihak, sehingga memberikan arahan pemberdayaan berbagai sumber daya untuk mencapai keberdayaan petani yang mandiri dan kesejahteraan petani kakao dan kelestarian lingkungannya.

Meninjau ulang Undang-undang Nomor 16 Tahun 2006 tentang SP3K untuk penyelenggaraan penyuluhan dalam upaya meningkatkan kapasitas sumber daya manusia. Selain itu, Undang-undang Nomor 19 Tahun 2013 tentang perlindungan dan pemberdayaan petani diarahkan pada peningkatan peran petani dan kelompok tani dengan berlakunya Undang-undang Nomor 18 Tahun 2018 tentang pemberdayaan petani melalui korporasi petani.

Strategi peningkatan kapasitas adaptif petani sangat diperlukan sebagai upaya mewujudkan usaha tani yang berkelanjutan. Berdasarkan perumusan strategi penguatan kapasitas adaptif petani kakao dalam menghadapi fenomena perubahan iklim dilakukan melalui tiga strategi, adalah sebagai berikut:
(1). Memastikan terselenggaranya penyuluhan berbasis kebutuhan petani kakao
Adaptif iklim bagi sektor pertanian di antaranya kemampuan secara teknis dan lembaga dalam mengelola usaha taninya melalui pembangunan teknologi produksi ketahanan iklim, penciptaan varietas unggul dan penerapan klon unggul adaptif dan spesifik lokasi yang memiliki potensi emisi Gas Rumah Kaca (GRK) rendah, toleran terhadap suhu tinggi maupun rendah, kekeringan, banjir/genangan dan tingkat ketahanan salinitas yang tinggi, penggunaan air yang berkelanjutan, teknologi pengembangbiakan, pengembangan kesadaran masyarakat dan memastikan arus informasi terkait iklim dalam perencanaan dan kebijakan.

Penyuluhan dalam adaptif perubahan iklim merupakan kombinasi antara inovasi teknis, inovasi kelembagaan manajerial dan sosial budaya. Penyuluh perlu dibekali dengan inovasi teknis berupa informasi iklim di lokasi kajian, baik berupa lokakarya iklim, pertemuan rutin, sekolah lapang iklim, maupun penyebaran informasi melalui berbagai media. Kegiatan ini dapat menjadi bahan kajian penyuluh yang akan diteruskan ke petani untuk bersama-sama menerapkan informasi ini.
Inovasi kelembagaan melalui kerja sama petugas BMKG dan kelembagaan P3A dengan penyuluh pemerintah, swasta dan swadaya dalam menjalankan fungsinya di lapangan.

Penyediaan dan pemanfaatan informasi oleh petani dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu kemampuan penyuluh dalam mencari, memberikan informasi dan mendapatkan umpan balik dari petani, kendala dan ketepatan waktu pemberian informasi, proses pemanfaatan informasi, dan kesesuaian teknologi dengan kebutuhan petani. Hal ini dapat dipenuhi jika kapasitas penyuluh dalam pemanfaatan informasi iklim ditingkatkan.
Oleh karena itu, diperlukan upaya untuk mempersiapkan SDM penyuluh yang profesional dalam menghadapi perkembangan dan tantangan perubahan iklim dalam konteks menyebarluaskan informasi sebagai agen perubahan.

(2). Keaktifan Kelembagaan Petani Kakao sebagai Wahana Pembelajaran
Kondisi organisasi petani saat ini lebih bersifat sosial budaya dan sebagian besar berorientasi hanya untuk mendapatkan fasilitas pemerintah, belum sepenuhnya diarahkan untuk memanfaatkan peluang ekonomi melalui pemanfaatan peluang akses terhadap berbagai informasi teknologi, permodalan dan pasar yang diperlukan bagi pengembangan usaha tani dan usaha pertanian. Di sisi lain, kelembagaan ekonomi petani, seperti koperasi belum dapat sepenuhnya mengakomodasi kepentingan petani/kelompok tani sebagai wadah pembinaan teknis. Berbagai kelembagaan petani yang sudah ada seperti kelompok tani, gabungan kelompok tani (gapoktan), Perhimpunan Petani Pemakai Air (P3A) dihadapkan oleh berbagai permasalahan. Beberapa permasalahan sumber daya sektor pertanian di atas selain karena faktor sumber daya manusia juga dipengaruhi sumber daya alamnya. Pengembangan sumber daya alam banyak ditentukan dan dipengaruhi oleh sumber daya manusia. Oleh karena itu yang paling utama harus menjadi perhatian pemerintah dan stakeholder terkait adalah manusianya.

Melalui pendidikan non formal dengan pendekatan kelembagaan petani dapat meningkatkan kapasitas SDM generasi muda pertanian yang lebih baik dan dapat meningkatkan minat dalam bertani. Pendidikan nonformal merupakan pendidikan orang dewasa melalui pelatihan-pelatihan, kursus, sekolah lapang, demonstrasi pelatihan (demplot) sebagai media belajar langsung dan kunjungan pada petani atau usaha-usaha bidang pertanian yang dapat menjadi motivasi bagi petani. Pendidikan nonformal merupakan upaya penyuluhan akan berjalan efektif apabila pendampingan penyuluhan pertanian dalam hal kemampuan, intensitas, materi dan metode disiapkan terlebih dahulu. Pendekatan kelembagaan petani dan penyuluhan telah menjadi strategi penting dalam pembangunan pertanian melaluipengembangan kelembagaan pertanian baik formal maupun nonformal dalam keaktifan kelembagaan petani di perdesaan di antaranya:

(a) Pembinaan dan pendampingan secara berkesinambungan pada setiap program pemerintah melalui One Village One Product (OVOP), korporasi petani dalam Permentan No. 18 Tahun 2018.
(b) Pembinaan kelompok tani sesuai dengan potensi wilayah melalui kelompok tani binaan per komoditas/produk. Pendampingan penyuluh, pendampingan swasta/LSM/Perguruan Tinggi melalui pelatihan-pelatihan manajerial usaha, pendampingan perindustrian, perdagangan dapat menjadi jalan kemandirian kelembagaan petani untuk berwirausaha.
(c) Kerja sama antar penyuluh dengan petani yang berhasil melalui demplot/kebun percontohan.

(3) Dukungan Pemerintah dalam Aspek Sarana dan Prasarana Usaha tani Kakao
Beberapa strategi peningkatan dukungan pemerintah bagi petani kakao dalam menghadapi fenomena perubahan iklim adalah:
(a) Pelatihan, sekolah lapang iklim dan pembinaan dari stakeholder terkait. Hal ini dapat terlaksana apabila terjadi sinergitas pemerintah, PT, peneliti, asosiasi penyuluhan dan pihak swasta.
(b) Peningkatan akses pelayanan informasi iklim (BMKG, P3A dan BP3K) melalui sosialisasi dan kerjasama (BMKG, P3A, BP3K dan Dinas terkait serta pelibatan swasta).
(c) Ketersediaan dan peningkatan pelayanan sumber modal usaha tani. Ketersediaan modal dalam bentuk:
(1) Terbentuknya desa mandiri biji bina kakao sebagai penangkar dan fasilitasi bibit/benih unggul/klon yang adatif dengan karakteristik wilayah (kesesuaian lahan dan iklim/agroklimat).
(2) Anggaran dana desa juga dimanfaatkan untuk penyediaan sarana dan prasarana, dan memperkuat kelembagaan dalam berwiraswasta usaha pertanian
(3) Meningkatkan kapasitas masyarakat perdesaan dalam pengolahan hasil pertanian melalui upaya setiap desa memiliki komoditas pertanian unggulan One Village One Product (OVOP) yang diarahkan menjadi sentra produksi salah satu komoditas pertanian sebagai bekal menjadi desa mandiri.

(d) Pengelolaan Ketersediaan Air dan Pemanfaatannya
Pengelolaan air dibutuhkan saat berlimpah dan kekurangan yang sangat menentukan budi daya kakao. Budi daya kakao membutuhkan air yang sedikit tetapi merata sepanjang tahun terutama saat proses pembungaan, peremajaan dan bagi tanaman yang sudah tua.

Hal ini menggambarkan perlunya dikembangkan model irigasi hemat air, irigasi tetes (drip irrigation) pada saat melakukan peremajaan tanaman kakao, vertigation system yangdibutuhkan saat melakukan pemupukan, rorak, drainase, embung reservoir dan sumur bor, di sekitar lahan kakao untuk menampung dan menjaga ketersediaan air saat curah hujan tinggi dan saat musim kemarau. Pengelolaan ini, menurut petani responden untuk dapat dimanfaatkan secara bersama pada lahan usaha taninya saat terjadi fluktuasi curah hujan.

(e) Pengwilayahan komoditas merupakan rekomendasi kebijakan pemerintah tentang potensi wilayah dan komoditas unggulan.
(f) Pemetaan berdasarkan geografis wilayah dengan kesesuaian lahan, agroklimat dengan komoditas unggulan wilayah.(*)

Click to comment

Most Popular

To Top