Utama

153 Warga Luwu Raya Kesulitan Pulkam

*Mengungsi di Sentani, Kekurangan Dana

PALOPO — Ratusan warga asal Tana Luwu yang terdampak kasus kerusuhan di Wamena saat ini hidup menderita di posko pengungsian di Sentani, Jayapura. Untuk kembali ke kampung halaman, sudah tak ada uang. Kini, mereka hanya berharap dari uluran bantuan donatur, dan pemerintah daerah di Luwu Raya.

Ke Sentasi, pengungsi menggunakan pesawat Hercules milik TNI. Ada juga bayi baru berusia 10 hari pun juga ikut mengungsi sambil digendong sang ibu yang juga menggendong kakak si bayi.

Seorang warga asal Batusitanduk yang sudah 2 tahun berdomisili di Wamena, Ny Al Husna Burhan Ali (31 tahun), Selasa (01/10) kemarin dengan wajah terlihat letih turun dari pesawat Hercules dan tiba dilokasi posko kemanusiaan Tana Luwu di Kompleks Ruko Utama Mall Borobudur (Sentani City Square) Sentani. Kelelahan yang luar biasa dirasakan, karena iapun harus ikut mengungsi dan menggendong anak bayinya yang baru berusia 10 hari.

“Saya warga asal Batusitanduk Pak. Saya baru saja melahirkan anak saya yang bungsu ini Pak, namanya Abrar. Anak saya ini baru berusia 10 hari. Saya harus ikut mengungsi bersama suami dan anak 2 orang ke Sentani menggunakan pesaswat Hercules milik TNI,” kata Ibu Al Husna.

Ibu Al Husna, sudah 2 tahun ini ia berdomisili di Kabupaten Wamena, ia bekerja sebagai staf di salah satu kampus yang ada di Wamena, sedang suaminya adalah burung bangunan. Kepada Palopo Pos, warga asal Batusitanduk, Kab. Luwu, berharap uluran tangan pemerintah untuk dapat memulangkannya ke kampung halaman di Batusitanduk.

“Kami sangat berharap pemerintah mengambil sikap atas tragedi di Wamena ini Pak. Kita ini adalah Warga Negara Indonesia, dan sebagai umat manusia saya kira kita memiliki hak yang sama. Tetapi, hal itu tidak terjadi di Wamena. Dalam kesempatan ini juga saya sangat mengharapkan bantuan, dan uluran tangan pemerintah Kabupaten Luwu, kiranya saya dapat dipulangkan ke kampung halaman di Batusitanduk,” pinta Ibu Al Husna sambil membelai lembut kepala bayi bernama Abrar yang baru berusia 10 hari.

Koordinator Posko Kemanusiaan Luwu Raya di Sentani, Sabil, dan Ny Itsnaeny, kepada Palopo Pos, Selasa, kemarin mengatakan, gelombang eksodus warga asal Luwu Raya dari Wamena terus berlanjut. Bahkan hingga Selasa siang (1/10), kemarin, setidaknya ada tiga pesawat Hercules tiba di Bandara Sentani. Tercatat ada sekitar 157 orang yang terdata mengungsi di posko.

“Kami sudah catat, dari tiga pesawat hercules yang tiba, ada 157 orang warga asal Tana Luwu, Makassar, dan Enrekang. Kemungkinan ini akan bertambah karena masih ada pesawat Hercules yang akan tiba dari Wamena,” kata Sabil.

Dari data jumlah pengungsi yang masuk ke Palopo Pos, berasal dari pelbagai daerah di Luwu Raya. Diantaranya dari Lamasi ada 3 orang, Batusitanduk 31 orang. Lalu, 31 orang dari Mangkutana, Larompong 13 orang, Masamba 6 orang, Cilallang (Luwu) 6 orang, Paccerakang 6 orang, Kota Palopo 45 orang, Makassar 3 orang, Enrekang 2 orang, Bua (Luwu) 5 orang, Pong Rakka 3 orang, dan Pattedong 1.

Itsnaeny, selaku relawan yang juga pemilik rumah yang dijadikan posko induk Luwu Raya untuk pengungsi asal Wamena, mengatakan, pihaknya bersyukur bantuan terus masuk dari berbagai dermawan. Hanya saja, jika kondisi terus menerus terjadi beberapa hari ke depan, maka persediaan logisitik akan menipis. Sehingga sangat diharapkan jika ada dermawan, dan donatur yang ikut peduli dengan tragedi kemanusiaan di Wamena, kiranya dapat memberikan bantuan logistik.

“Bantuan logistik sangat kami butuhkan untuk memberi makan pengungsi. Alhamdulillah bantuan tetap ada dari para dermawan. Tetapi, berdasarkan hasil wawancara kami dengan para pengungsi, mereka sangat mengharapkan bantuan dari Pemda Luwu Raya berupa harapan untuk dipulangkan ke kampung halaman. Mereka sangat ingin pulang kampung dengan situasi yang tidak menentu seperti ini,” kata Itsnaeny.

Wagub Sulsel Temui Gubernur Papua

Wakil Gubernur Sulawesi Selatan, Andi Sudirman Sulaiman, bertemu Gubernur Papua, Lukas Enembe di Gedung Negara Papua.
Pertemuan ini guna koordinasi lebih lanjut pasca kerusuhan dan upaya pemulihan korban.

Gubernur Papua, Lukas Enembe menyampaikan terima kasih kepada Pemprov Sulsel, yang memerhatikan keamanan warga Papua yang berdomisili di Makassar dengan kunjungan Gubernur Sulsel dan Kapolda di Asrama Mahasiswa Papua.

“Melalui pertemuan ini, Gubernur Papua merencanakan dengan baik penanganan pasca konflik dan rekonstruksi kembali Wamena,” ucap Andi Sudirman Sulaiman, Selasa (1/10/2019).
Gubernur Papua, Lukas Enembe mengatakan, Pemerintah dan TNI/Polri menjamin keamanan warga masyarakat baik orang asli Papua maupun di atas tanah Papua.

“Jangan percaya hoax yang beredar, yang menghasut dan mengadu domba. Kami terdepan melindungi warga kami di Wamena, baik warga asli maupun warga pendatang termasuk dari Sulsel,” ungkapnya.

Antre

Antrean di Bandara Wamena masih panjang. Sedikitnya 17.097 pengungsi menunggu penerbangan pesawat C-130 Hercules ke Jayapura dan beberapa daerah lainnya. Berhari-hari mereka bertahan di bandara.

Juarto salah satunya. Pria asal Pati, Jawa Tengah, itu memilih tinggal di pengungsian Detasemen TNI Wamena. Sejak Selasa (24/9) dia bersama putranya, Dwiki Agus Marzuki, 18, berada di sana.

Tidak ada pilihan lain bagi Juarto dan Agus. Di Wamena mereka tidak punya keluarga. Hanya teman seperantauan sesama buruh bangunan.
Tiga minggu lalu, pria 45 tahun tersebut memutuskan pergi ke Wamena. Tujuannya ialah menghindari demonstrasi yang berujung ricuh di Jayapura. Sekaligus mengadu nasib di tempat baru.

Keinginannya adalah segera meninggalkan Wamena. Namun, dia belum punya rencana pulang. Dia ingin pergi ke Jayapura. Kembali mencari kerja. ”Setelah ada uang baru pulang,” katanya.

Komandan Detasemen Wamena Mayor Pnb Arief Sudjatmiko mengungkapkan, jumlah total pengungsi yang sudah diterbangkan 4.121 orang. Semuanya ke Jayapura. Hari ini (1/10) bakal ada penerbangan ke Biak, Merauke, dan Timika. Jumlah pengungsi yang ingin ke Biak 703 orang, Merauke 400, dan Timika 190 orang. Karena keterbatasan kapasitas, mereka diangkut secara bertahap.

Rencananya, ada tambahan satu Hercules long body dari Lanud Halim Perdanakusuma. Dengan tambahan armada tersebut, Arief yakin 17.097 pengungsi bisa diangkut keluar dari Wamena dalam sepuluh hari. Namun, itu bisa terealisasi apabila jumlah pengungsi yang mendaftar antre Hercules tidak bertambah.

Sementara itu, Presiden Joko Widodo (Jokowi) meminta publik tidak menarik kasus kerusuhan di Wamena akhir pekan lalu ke isu etnis Papua dan non-Papua. Sebab, berdasar informasi yang diterima, kelompok kriminal sipil bersenjata (KKSB) berada di balik aksi kekerasan tersebut. ”Ini adalah kelompok kriminal bersenjata yang dari atas, di gunung, turun ke bawah dan melakukan pembakaran-pembakaran rumah warga,” ujarnya di Istana Kepresidenan Bogor.

Saat ini aparat kepolisian telah menangkap beberapa pelaku yang ditengarai melakukan pembunuhan dan pembakaran di Wamena. ”Saya sampaikan bahwa aparat keamanan telah bekerja keras untuk melindungi semua warga,” imbuhnya. (and/idr)

Data Pengungsi Asal Luwu Raya di Posko Sentani

Lamasi : 3 Orang
Batusitanduk : 31 Orang
Mangkutana : 31 Orang
Larompong : 13 Orang
Masamba : 6 Orang
Cilallang (Luwu) : 6 Orang
Paccerakang (Luwu) : 6 Orang
Palopo : 45 Orang
Makassar : 3 Orang
Enrekang : 2 Orang
Bua (Luwu) : 5 Orang
Pong Rakka (Luwu) : 3 Orang
Pattedong (Luwu ) : 1 Orang



Click to comment

Most Popular

To Top