Ragam

46 Ribu Sapi Lahir per Tahun

MAKASSAR — Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Pemprov Sulsel, Abdul Azis menyebutkan saat ini jumlah kelahiran sapi di Sulsel lebih dari 46 ribu kelahiran per tahun.

“Peningkatan ini didukung program inseminasi buatan dan embrio transfer serta seperti yang disebutkan oleh Pak Wagub dengan memaksimalkan lahan yang tertidur selama ini, di Luwu Utara ada 23 ribu lahan yang harus dimaksimalkan,” sebut Abdul Azis saat di wawancarai di Hotel Swiss Bellin setelah acara pembukaan International Conference of Animal Science Technology (ICAST) 2019, Senin (5/11).

Ia menyebutkan, saat ini wilayah potensial produksi sapitersebar di hamper seluruh kabupaten/kota Sulawesi Selatan. “Utamanya kabupaten Bone, Sinjai, Bukumba, dan Wajo,” sebutnya.

Rektor Universitas Hasanuddin, Prof. Dwia Aries Tina Pulubuhu mengatakan, pihaknya akan terus mensupport aktivitas pengembangan peternakan di Sulawesi Selatan dari sisi pengetahuan dan teknologi.

“Universitas Hasanuddin continues to support activity related to development of science, technology, and innovation of animal husbandry technology, (Universitas Hasanuudin terus mendukung perkembangan peternakan di Sulsel utamanya dalam bidang ilmu pengetahuan, teknologi, dan inovasi,” jelasnya.

Dekan Fakultas Peternakan Universitas Hasanuddin (UNHAS) Prof Dr Ir Lellah Rahim M.Sc menjelaskan bahwa populasi sapi di Sulawesi Selatan saat ini, secara nasional berada di urutan ke-3.

“Jadi Sulsel ini secara nasional saat ini berada di urutan ke-3 dengan jumlah 1,5 juta ekor, diurutan pertama ada Jawa Timur kurang lebih 4 juta ekor, kedua Jawa Tengah kurang lebih 2 juta ekor,” ungkapnya saat di wawancarai di Hotel Swiss Bellin, Selasa (5/11).

Ia menambahkan, direncanakan tahun depan pengaspalan jalan dari Seko ke Sulawesi Barat kurang lebih 40 km dan juga jalan dari Seko ke Sigi dengan harapan Seko akan menjadi daerah penyuplai apabila Ibukota Negara dipindahkan.

“Kalau dikembangkan peternakan disana yang 23.000 hektar yang ada di Seko kita bisa mengsuplai kalau ibu kota negara pindah ke Kalimantan Timur, akan sangat mudah aksesnya dari Mamuju ke Kalimantan Timur sesuai keinginan Pak Gubernur, bukan hanya peternakan, Seko akan di jadikan suatu kota yang terintegrasi, semua ada akan disana. makanya peternakan, pertanian, dll kita akan buka dalam bentuk kota,” ungkapnya.

Menurutnya, Seko memiliki lahan yang sangatluas dan berpotensi hanya saja masyarakat baru memelihara kerbau dengan populasi kurang lebih 8.000 ekor.

“Selain kerbau masyarakat juga memelihara sapi tapi tidak sebanyak kerbau dan itu adalah langkah awal untuk menata area tersebut,” ucapnya.

“Saya berharap Sulsel bisa menerepkan Inseminasi kalau tidak 100% mungkin 75%, tapi untuk daerah-daerah terpencil kami masih usaha mungkin kita menyiapkan pejantan yang unggul karena yang kita harapkan bukan hanya populasi tapi bagaimana meningkatkan kualitas, makanya pak Gubernur selalu mengatakan bagaimana sapi yang ada disini menyerupai wagyu atau sapi jepang yang kualitasnya nomor 1 di dunia,” tambahnya.

Prof Lellah juga menjelaskan, secara nasional provinsi Sulsel ditunjuk sebagai pusat penyedia straw untuk sapi Bali dan nantinya straw bukan hanya dipakai di Sulsel melainkan di seluruh Indonesia.

“Di Sulawesi Selatan kita sudah mempunyai satu pusat kerja sama dinas peternakan provinsi dengan Unhas yang ada di Pucak, kita sudah menghasilkan straw yang akan digunakan untuk kawin suntik khusus untuk sapi Bali” jelasnya.(idr)



Click to comment

Most Popular

To Top