Ekonomi

“Mas Kuning-kuning”, Penjual Es Tontong Jadi Pengusaha Warung Makan

Datang ke Palopo tanggal 27 Januari 2012, Hendi Yudi Setiatin hanya jual es tontong. Lalu jual nasi kuning keliling di Pasar Sentral Palopo. Kini, sudah memiliki delapan cabang Warung Makan “Mas “Kuning-kuning” dengan omset Rp10 jutaan per hari.

Hendi kini lebih dikenal dengan sapaan “Mas Kuning-kuning” yang juga jadi brand usahanya, memiliki 36 orang yang bekerja pada delapan warung makannya. Mereka melayani pengunjung yang mencapai 500 hingga 800 orang per hari.

Setiap cabang masing-masing punya pengelola atau manajemen tersendiri. Hendi juga memiliki satu manajer untuk mengelola delapan cabang warungnya. Ada supervisor yang bertugas mengontrol semua kegiatan usaha. Ada staf akuntan yang membuat laporan setiap minggu dan bulanan.

”Saya tinggal terima laporan saja. Tugas saya scale up atau pengembangan usaha. Bagaimana menumbuhkan usaha dan menambah usaha,” terang Hendi yang ditemui di Warung Mas Kuning-kuning Jl. Haji Hasan, Palopo, (29/11) lalu.

Saat ini, Hendi sedang merancang membuka usaha ritel modern atau mini market dengan sistem shirka (syariah). Rencana launching Januari 2020. Setelah itu, Hendi akan membuka usaha peternakan ayam petelur. ”Lahannya sudah siap,” katanya.

Bagaimana awalnya?

Hendi merupakan pria kelahiran Temanggung, Provinsi Jawa Tengah tanggal 4 Mei 1983. Ia merantau dari kampung halamannya di Jawa, datang ke Palopo pada 27 Januari 2012. Bersama keluarganya, seorang istri dan dua anak. Sekarang anaknya sudah tiga orang. Waktu itu tinggal di rumah keluarga di kompleks Kehutanan Jl. Opu Tosappaile.

Di Palopo, Hendi awalnya menjual es tontong selama sembilan bulan. Lalu jual nasi kuning keliling dengan menggunakan keranjang di Pasar Sentral Palopo. Ia menggunakan matode marketing teriak dengan kalimat “kuning-kuning”. Akhirnya masyarakat pasar memanggil dirinya ”Mas Kuning-kuning”.

Waktu itu, ia membawa 400 kotak setiap hari. Dijual dengan harga Rp3.000 per kotak. Ia menjual mulai pukul 06.00 hingga 10.00 pagi. Hasil jualan dalam satu hari mencapai Rp1,2 juta. Kelebihan nasi kuningnya karena menggunakan kemasan plastik mika transparan. Harga sangat murah, rasanya berkualitas karena menggunakan bumbu dan santan yang kental, plus sambal. ”Bagi saya, memberi yang terbaik untuk pembeli,” ucap Hendi.

Tahun 2015, Mas Kuning-kuning buka lapak tenda biru perwakilan bus Sartika dengan status sewa. Ia sudah tidak jual nasi kuning. Ganti produk ayam krispi yang upgrade terus. Di sini, omset per harinya mencapai Rp3 jutaan per hari.

Dari sini, Mas Kuning-kuning beli tanah/rumah di Jl. H Hasan, tak jauh dari perwakilan bus Sartika dengan harga Rp550 juta. Ukuran tanah 10 x 27 meter dan luas bangunan 10×20 meter. Rumah tersebut sekaligus jadi tempat usaha dengan produk utama ayam kentaki. Kemudian produknya dikembangkan jadi beberapa varian, ada ayam grepek, ayam bacan, ayam, bakar, dan ayam kremes.

Kini Warung Mas Kuning-kuning telah memiliki delapan cabang. Tiga cabang di Jl. Hasan, semua 100 persen milik Hendi. Ketiga cabang yang berdekatan tersebut, masing-masing memiliki menu tersendiri.
Cabang pertama bakso dan mie ayam. Cabang kedua berdampingan dengan cabang kedua, menu nasi goreng, mie kuah, dan gado-gado. Lalu cabang ketiga yang berada di depan seberang jalan, menu lesehan seperti ayam grepek, ayam bacan, ayam, bakar, dan ayam kremes.

Di Pasar Sentral, juga 100 persen milik Hendi. Di Jl. Dr Ratulagi konsep shirka (syariah), investasi Rp75 juta yang terbagi dalam 750 lembar saham. Satu saham senilai Rp1 juta. Pemegang saham ada 23 orang. Menu komplit mie ayam, bakso, lesehan, dan lainnya.

Sedang di Cabang Binturu, menu lesehan. Di sini, juga sistem shirka dengan investasi Rp200 juta, terbagi dalam 100 lembar saham. Satu saham senilai Rp2 juta, Pemegang saham di sini 43 orang.
Sedang di Soppeng dua cabang, semua pemilik tunggal. Yang satu investasi Rp200 juta, menu komplit. Dan cabang yang satunya investasi Rp59 juta, khusus jualan bakso.

Sekarang ini, Hendi mengembangkan usaha supermarket yang diberi nama “Mas Kuning-kuning Mart” di eks show room Suzuki A’Tiga Jl. Andi Djemma (depan Kantor Perpustakaan Palopo). Mini market ini menjual sembako dan kebutuhan masyarakat umum. Di samping itu, juga menyediakan bahan baku untuk kebutuhan warung.

Jadi semua warung yang delapan cabang, nantinya beli bahan di “Mas Kuning-kuning Mart”. Masyarakat juga bisa beli kebutuhan sehari-hari di mini market ini. Demikian pula pengusaha warung atau rumah makan di sekitarnya, bisa beli bahan makanan di sini.

Setelah mini market jalan, selanjutnya Hendi akan mendirikan usaha peternakan ayam potong. Jadi itulah lompatan-lompatan yang kami lakukan dalam berbisnis. Sesuatu yang mustahil, bisa dilakukan. Siapa sangka, Hendi yang dulunya hanya penjual es tontong, sebentar lagi jadi pengusaha mini market. (ikh)



Click to comment

Most Popular

To Top