Utama

Viral di Medsos, Ekscavator Bidan Nur Tampil dengan Warna Pink

TAMPAK ekscavator milik Bidan Nur yang sudah dibungkus warna pink. Perubahan warnanya tidak muda membalikkan telapak tangan. Ia harus minta izin ke pabrikan alat berat di Jepang.

WARNA  pink selama ini selalu identik yang ini. Baju, sepatu, cat rumah, ranjang. Bahkan, sampai ke kendaraan berupa motor dan mobil. Tapi, kini warna kesukaan perempuan ini sudah dapat dijumpai pada sebuah alat berat. Ya, ekscavator itu.

Catatan: Aryanto

Bisa jadi, ini mungkin satu-satunya di Luwu Raya. Bahkan, di Provinsi Sulawesi Selatan. Sebuah ekscavator yang warna dasarnya diubah. Dari warna dasar kuning diubah ke warna pink. Semuanya. Badan alat berat yang nilainya Rp1,6 miliar, tapi setelah didiskon menjadi Rp1,4 miliar, dibungkus dengan warna merah muda.
Salah satu teman ngopi dari Malili berkelakar. ”Mungkin ini satu-satunya di dunia. Hehehe. Ada alat berat diberi warna pink,” ujar Sulvi, perempuan berkerudung yang bekerja di Pemkab Luwu Timur, sore kemarin, di Warkop Phoenam City Market (CMP) Palopo.
Warna ini mendeskripsikan hal yang manis, romantis, lucu, menyenangkan, feminim, menawan, dan lembut. Warna ini identik juga dengan seorang perempuan. Lebih luas lagi. Pink mewakili persahabatan, kasih sayang, harmoni, kedamaian batin.
Tidak salah lagi. Kalau pemilik ekscavator warna pink adalah sosok perempuan tangguh asal Mangkutana. Ia perkenalkan namanya Nasmasriati. Perempuan kelahiran Laimbo, 19 Juli 1976. ”Kebetulan ibu bidan ke BNI. Urusan biasa,” sebutnya dalam perbincangan santai dengan wartawan Palopo Pos.
Tidak lama kemudian perempuan yang disebut ‘Ibu Bidan’ datang dan langsung menyapa. Ia lalu bersalaman dengan Hartawati Andi Djelling dan teman ngopi lainnya di Phoenam. ”Nah, ini dia orangnya,” tambah Sulvi memperkenalkan.
Perbincangan santai kemudian berpindah ke perempuan yang kesehariannya memang PNS dan bekerja sebagai bidan di Mangkutana. ”Memang sudah viral. Di berbagai medsos. Facebook, story WhatsApp, IG, dan youtube,” ujarnya mengawali perbincangan santai.
Ekscavator dibeli di Makassar. Di PT Hexindo Adiperkasa, Tbk. Kalau di DP sekarang, alat langsung ada. Namun, yang tidak gampang adalah urusan mengubah warna. ”Ribet sekali,” aku Bidan Nur.
Di mana ribetnya? Ternyata, mengubah warna dasar alat berat tidak muda seperti membalik telapak tangan. ”Selain berurusan dengan diler resminya di Makassar, saya juga harus melapor ke Jepang–tempat alat berat diproduksi. Ya, melapor lewat pihak Hexindo Adiperkasa,” aku dia.
Di urusan ini, masih butuh biaya. Katanya, ”saya harus keluarkan lagi duit sampai jutaan rupiah untuk pengurusan mengubah warna ke Jepang,” katanya, seraya menyebut pihak Exindo Adiperkasa tidak berani mengubah warna tanpa ada izin dari pabrikan di Jepang. ”Saya baru bisa lega setelah ada izin dari sana,” sebutnya sambil tersenyum.
Ekscavator pink adalah pesanan kelima ibu tiga anak ini. Ekscavator Hitachi memiliki spesifikasi PC 200. Perubahan warna dilakukan pihak Hexindo setelah ada izin dari pabrikannya di Jepang.
Perbincangan terus mengalir. Ia juga menceritakan bagaimana membangun usahanya dari nol. Atas dorongan dari sang suami–saat masih bersama. Kemudian mengambil kredit di bank untuk membantu modal usaha. ”Alat berat saya lebih banyak menggarap kebun kelapa sawit, syukur tidak pernah putus. Saya jarang mengerjakan proyek pemerintah,” katanya.
Ia juga menginformasikan bahwa ekscavator yang dipesannya sedang dalam perjalanan dari Makassar. Menuju Mangkutana. ”Kalau bukan Rabu pagi tiba. Mungkin Selasa malam (malam nanti, red). Itu kalau tidak ada halanngan di perjalanan,” ucap dia.
Setelah ekscavator pink didatangkan, ia kembali rencananya akan mendatangkan lagi satu alat berat yang sama. Nanti pada bulan Maret. ”Saya sudah kasi DP. Nanti Maret akan tiba lagi,” tambah dia.
Siapa Bu Bidan cantik ini? Ia sendiri sudah punya tiga anak. Ia ibu dari Carolus Rahma Chandra Herpita, Yasinta Grace Sandra Herpita, dan Anugerah.
Kemudian riwayat pekerjaannya disebutkan. Pernah kerja di RS Fatima Parepare (1995-1996), RS Budi Rahayu Pekalongan, Jawa Tengah (1996-1997), Puskesmas Mangkutana Tahun 1998 sampai sekarang.
Ia dikenal bak pahlawan bagi masyarakat tidak mampu di daerah Desa Kasintuwu, Kecamatan Mangkutana, Kabupaten Luwu Timur.
Pasalnya, Ibu Bidan Nur paling gemar membantu melahirkan ibu-ibu hamil dari kalangan tidak mampu. Dengan tidak memungut biaya persalinan.
Selain menggratiskan persalinan ibu hamil, Bidan Nur juga memiliki kebiasaan menyambangi warga tidak mampu termasuk janda-janda yang ada di desanya sambil membagikan sembako.(ary)



Click to comment

Most Popular

To Top
.