Opini

REFLEKSI AKHIR PEKAN

OLEH: HARDY, MH (PENGAMAT PENDIDIKAN)

Akhir-akhir ini dunia sedang menghadapi fenomena disrupsi. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, disrupsi didefinisikan sebagai suatu hal tercabut dari akarnya. Jika diartikan dalam kehidupan sehari-hari, disrupsi adalah terjadinya perubahan fundamental atau mendasar, yaitu evolusi teknologi yang menyasar sebuah celah kehidupan manusia.

Digitalisasi adalah akibat dari evolusi teknologi, terutama teknologi informasi, yang mengubah hampir semua tatanan kehidupan termasuk tatanan dalam dunia pendidikan. Sebagian mengatakan bahwa disrupsi adalah sebuah ancaman. Namun banyak juga yang mengatakan kondisi saat ini adalah peluang.

Era disrupsi merupakan fenomena ketika masyarakat menggeser aktivitas-aktivitas yang awalnya dilakukan di dunia nyata ke dunia maya. Fenomena ini berkembang pada perubahan pola dunia bisnis. Kemunculan transportasi online adalah salah satu dampak yang paling populer di Indonesia.

Disrupsi (disruption) merupakan istilah yang dipopulerkan oleh Clayton Christensen sebagai kelanjutan dari tradisi berpikir “harus berkompetisi untuk bisa menang (for you to win, you’ve got to make somebody lose)”.

Kita harus bisa segera beradaptasi dan mengenali bagaimana keadaan sekarang yang penuh dengan perubahan. Tidak lagi sekedar berubah, melainkan langsung bergeser atau menggantikan yang sudah ada sebelumnya dalam waktu yang cepat.

Pergeseran segmen konsumen di dunia pendidikan yang sebelumnya generasi X menjadi generasi milenial memerlukan pengembangan dari berbagai aspek, terutama layanan. Jika mengikuti perkembangan selama ini yang terjadi, kita akan disadarkan kalau tanda-tanda perubahan tersebut sudah terbaca sejak beberapa tahun lalu.

Perubahan yang terjadi secara tiba-tiba dan dalam waktu yang singkat tersebut memang mengejutkan beragam pihak. Ada yang senang dan ada yang merasa terancam. Lalu apa yang sebenarnya terjadi? Apa yang sebaiknya dilakukan?

Perusahaan dari segala jenjang dan industri (termasuk dunia pendidikan) perlu menerapkan teknologi atau inovasi baru guna menciptakan model-model bisnis canggih yang menghadirkan nilai yang lebih besar bagi para customer, karena ada lawan-lawan yang tidak kelihatan yang berusaha untuk menggeser kedudukan kita.

Lawan-lawan tersebut tidak memiliki bentuk fisik yang sama dengan perusahaan-perusahaan yang besar, tetapi bisa menyainginya. Dengan meluasnya gaya hidup digital, para konsumen kini dimanjakan dengan beragai pilihan dan memiliki ekspektasi yang jauh lebih tinggi dari sebelumnya.

Di era disrupsi, kita di dunia pendidikan harus mempunyai pilihan, membentuk ulang (reshape) atau menciptakan yang baru (create). Jika memutuskan untuk reshape, maka kita bisa melakukan inovasi dari produk atau layanan yang sudah dimiliki. Sedangkan jika ingin membuat yang baru, kita harus berani memiliki inovasi yang sesuai dengan kebiasaan atau kebutuhan customer kita.

Memang terdengar klise, namun apabila kita dapat membaca situasi dengan baik kemudian melihat peluang yang ada, maka kitapun yang berada di dunia pendidikan bisa bertahan di era disrupsi. Era disrupsi yang tengah dialami ini tidak dapat dihindari dan tidak bisa lagi hanya menyalahkan keadaan tanpa merumuskan strategi untuk dapat bertahan, sehingga tetap keluar sebagai pemenang. Beberapa contoh bisnis yang menjadi korban disrupsi diantaranya adalah Kodak, Nokia, mall dan pusat grosir atau Taksi Konvensional.

Menurut saya, dengan memperbanyak jumlah pegawai usia muda dapat dijadikan solusi untuk menghadapi tantangan era disrupsi. Dengan memiliki banyak talenta “pendobrak zona nyaman” yang sekaligus memahami trend teknologi baru, dapat membuat kita melewati era disrupsi ini tanpa harus terjerembab karenanya. Orang muda biasanya menguasai teknologi terkini, tahan banting, dapat bekerja hingga larut dan masih semangat mengejar impiannya, dan hal inilah yang menjadi poin plus.

SDM muda harus siap menghadapi era disrupsi dengan memiliki etos kerja, sikap terbuka serta mampu menjadi problem solving untuk menyelesaikan berbagai persoalan yang semakin kompleks dan berubah dengan cepat.

Disrupsi menginisiasi lahirnya model bisnis baru dengan strategi lebih inovatif dan kreatif. Cakupan perubahannya luas mulai dari dunia bisnis, perbankan, transportasi, sosial masyarakat hingga pendidikan.

Era ini akan menuntut kita untuk BERUBAH atau PUNAH, BERINOVASI atau TERTINGGAL. Tidak diragukan lagi, era disrupsi mendorong terjadinya digitalisasi sistem pendidikan. Munculnya inovasi aplikasi teknologi seperti Uber, Gojek, Grab dan lain-lain akan menginspirasi lahirnya aplikasi sejenis di bidang pendidikan.

Kegiatan belajar mengajar akan berubah total. Ruang kelas mengalami evolusi dengan pola pembelajaran digital yang memberikan pengalaman pembelajaran yang lebih kreatif, partisipatif, beragam dan menyeluruh.

Fungsi guru atau pendidik pada era digital berbeda dibandingkan guru masa lalu. Kini guru / pendidik tidak mungkin mampu bersaing dengan mesin dalam hal melaksanakan pekerjaan hafalan, hitungan hingga pencarian sumber informasi. Mesin jauh lebih cerdas, berpengetahuan dan efektif dibandingkan guru, karena tidak pernah lelah melaksanakan tugas.

Karena itu, fungsi guru / pendidik bergeser lebih mengajarkan nilai-nilai etika, budaya, karakter, kebijaksanaan, pengalaman hingga empati sosial, karena nilai-nilai itu yang tidak dapat diajarkan oleh mesin. Pertanyaannya adalah, apakah para guru / pendidik saat ini telah siap untuk menghadapi perubahan peran ini ? Apakah nilai-nilai etika, budaya, karakter, kebijaksanaan telah dimiiki secara baik oleh para guru / pendidik di sekolah kita ?

Hal ini bukan hanya persoalan mengganti kelas tatap muka konvensional menjadi kelas dunia maya. namun lebih penting adalah revolusi peran guru / pendidik sebagai sumber belajar atau pemberi pengetahuan menjadi mentor, fasilitator, motivator bahkan inspirator dalam mengembangkan imajinasi, kreativitas, karakter serta team work para siswanya yang dibutuhkan di masa depan.

Tidak ada pilihan tema-teman, kita harus mau dan harus bisa BERUBAH, entah itu perubahan yang disruptif atau bahkan revolusioner ! (*)



Click to comment

Most Popular

To Top