Opini

MENANGKAP SPIRIT 23 JANUARI UNTUK MASA DEPAN TANAH LUWU

Oleh Aswar Hasan

Berawal dari bocornya informasi intelijen dari seorang perwira Jepang Kapten Sakata kepada Andi Ahmad putera Datu Luwu Andi Djemma, bahwa sesungguhnya,sejak kemarin 17 Agustus 1945 Indonesia telah merdeka dan telah diproklamirkan oleh Soekarno Hatta.
Informasi eksklusiv tersebut, langsung dikonsolidasikan dengan melakukan rapat penting jelang tengah malam oleh 7 pemuda yaitu; 1. Andi Makkulau Opu Dg Parebba, 2. Andi Ahmad, 3. Andi Tenri Ajeng, 4. M. Yusuf Arief, 5. H. Abd. Kadir Daud, 6 Mungkasa, 7. M. Gili Dg. Malimpo. Mereka pun menyepakati sebuah wadah perjuangan yang mereka beri nama Soekarno Moeda. Para aktifis Soekarno Moeda tersebut langsung bertindak dengan melakukan aktifitas mengisi dan mempertahankan kemerdekaan diantaranya melakukan perampasan senjata Jepang yang sudah takluk terhadap Sekutu.
Dalam pada itu pun mereka menghadap sekaligus melapor dan meminta arahan dan petunjuk kepada Datu Luwu sebagai pemegang otoritas kekuasaan pemerintahan. Pertemuan mereka dengan Datu berlangsung beberapa jam ( salah satu sumber menyebut 4 jam) hasil pertemuan mereka akhirnya memutuskan mengirim 2 orang delegasi ke Makassar, yaitu Andi Makkulau Putra Datu Luwu dan Sanusi Dg. Mattata menemui Dr. Ratulangi yang waktu itu, bertindak sebagai Gubernur Sulawesi, untuk menanyakan perihal tersebut sekaligus meminta petunjuk tentang bagaimana langkah selanjutnya.
Setelah mendapatkan kepastian bahwa benar Indonesia telah merdeka, tanpa menunggu waktu yang lama, Datu Luwu Andi Djemma memerintahkan untuk mengundang seluruh perangkat hadat, pemuda serta rakyat luwu untuk mempermaklumkan bahwa; “Kedatuan Luwu beserta rakyatnya pertama kali berdiri di belakang proklamasi RI dan Tana Luwu adalah bahagian dari RI”. Keputusan tersebut adalah wujud nasionalisme sejati yang disemangati oleh jiwa patriotisme oleh Datu Luwu beserta rakyatnya.
Harga sebuah kemerdekaan ternyata harus dibayar dengan mahal dan itu dibuktikan oleh Datu Luwu beserta rakyatnya.
Sekutu sebagai pemenang perang dunia ke 2 yang menaklukkan Jepang dan akan datang ke Indonesia melucuti jepang, tenyata membonceng NICA (Netherlands Indie Civil Administration) yang datang diperkuat oleh KNIL ( Koninklijke Netherlands Indische Leger) berujung kekacauan karena ingin kembali menjajah Bangsa Indonesia. Diantara kekacauan yang mereka buat adalah memasuki Masjid di Bua dengan tidak etis dan memperlakukan Al Qur’an suci secara tidak pantas dan meneror rakyat.
Perbuatan penjajah tersebut, tidak didiamkam oleh Datu Luwu. Akhirnya, Datu Luwu mengeluarkan ultimatum yang bunyinya kurang lebih sebagai berikut; “Dalam tempo 2X 24 jam pasukan Australia (sekutu) harus memerintahkan kepada pasukan KNIL yang berkeliaran ( berpatroli) di dalam dan di luar kota Palopo untuk menarik segera anggotanya masuk ke tangsi dan keamanan tetap dalam kendali PRI (Pemerintah Republik Indonesia) sesuai agreement dengan keamanan kontingen Australia. Jika sampai dalam tempo tersebut tidak diindahkan oleh bersangkutan, maka ketertiban dan keamanan tidak dapat dipertanggungjawabkan karena rakyat Luwu tidak dapat mentolerir kebiadaban perusakan dan kekacauan yang diakibatkan oleh KNIL”. Ultimatum tersebut ditanda tangani pada 21 Januari 1946, langsung oleh Datu Luwu Andi Djemma bersama K.H.M. Ramli selalu representasi Ummat Islam dan M. Yusuf Arief selalu perwakilan pemuda. Karena ultimatum tersebut tidak diindahkan, maka terjadilah serangan umum tepat pada tanggal 23 Januari 1946 pada subuh hari. Maka,terjadilah pertempuran semesta antara rakyat Luwu melawan penjajah NiCA, KNIL yang di back up sekutu. Sekitar 6 bulan Palopo dan sekitarnya diamuk perang baik di darat, di laut, bahkan dari udara dengan bombardir bom. Kota Palopo pun terbakar menjadi lautan api pertempuran.
Pertempuran pun berlangsung secara tidak adil, karena tidak seimbang dari segi peralatan perang (sekutu sebagai pemenang perang dunia II) lagi pula karena melawan kelicikan yang tidak fairness. Akhirnya Datu pun beserta yang setia bersamanya tertawan oleh Belanda dan diasingkan ke Ternate sementara kerabat pejuang lainnya ada yang dihukum seumur hidup. Tetapi meski pun demikian perlawanan rakyat Luwu tidak padam. Istana boleh di rebut dan dikuasai dan rajanya ditawan, tetapi perlawanan rakyat Luwu tidak pernah padam. Itulah yang membedakan kerajaan Luwu dengan yang lainnya, yang kalau rajanya tertawan dan istananya direbut, maka pupuslah perlawanannya. Teori itu, tidak berlaku bagi rakyat Luwu, karena ketaatan dan perlawanannya ada pada spirit rajanya bukan pada fisik Kerajaan dan Rajanya.
SPIRIT PERJUANGAN
Sejarah perlawanan rakyat Luwu dalam mempertahankan kemerdekaan pada 23 Januari 1946 merupakan goresan yang bertintakan emas.
Sejarawan Barat Williem Ijzereef dan jenderal A.H. Nasution menyatakan, bahwa ada 2 peristiwa perlawanan rakyat Indonesia paling besar dan heroik dalam mengusir penjajah, yaitu; perlawanan arek- arek Suroboyo pada 10 November 1945 dan perlawanan rakyat Luwu pada 23 Januari 1946. Sangat boleh jadi, hari pahlawan yang diperingati secara nasional jatuh pada 23 Januari 1946 sekiranya tidak ada peristiwa 10 November 1945 di Surabaya. Tetapi point’ yang ingin penulis sampaikan disini, adalah bahwa; rakyat Luwu patut berbangga dengan sejarah perjuangannya yang tidak diragukan dari segi nasionalisme dan patriotisme. Permasalahanya kemudian adalah bagaimana mewarisi dan mengejawantahkan spirit perjuangan tersebut?
Menurut hemat penulis, ada 5 (lima) warisan spirit sejarah yang tidak boleh hilang bagi rakyat Luwu ke depan jika ingin eksis dan diperhitungkan, yaitu dengan menimba 5 (lima) point penting di balik peristiwa perlawanan rakyat Luwu pada 23 Januari 1946 yaitu;
Pertama, memelihara dan mewujudkan persatuan dan kesatuan dalam merespon tantangan kehidupan sebagai rakyat Luwu yang cinta kemerdekaan
Kedua, fokus secara sinergis dalam menghadapi tantangan demi harga diri dan kemandirian sebagai bangsa
Ketiga, berbuat dengan semangat pengabdian semata-mata untuk kepentingan rakyat banyak, bukan untuk kepentingan golongan terlebih pribadi
Keempat, senantiasa menjaga sinergisitas yang positif konstruktif antara agama dan budaya
Kelima, senantiasa komitmen merawat nasionalisme dengan jiwa patriotisme sebagai perekat kebangsaan.
Kelima point khasanah historis dan budaya itu hendaknya dirawat untuk ditumbuh kembangkan dalam mengembangkan setidaknya 5 (lima) potensi yang saat ini ada atau akan diwujudkan untuk kepentingan rakyat Luwu yaitu;
Pertama, mengembangkan potensi tanah Luwu yang kaya, terdiri dari pertanian dan sumber daya alam seperti nikel, emas ataupun potensi tambang lainnya yang belum dieksploitasi secara maksimal.
Kedua, intitusi pendidikan berupa Perguruan, tinggi seperti UNANDA dan lainnya yang bisa mencetak tenaga SDM yang unggul dan spesipik untuk Kentingan Luwu ke depan
Ketiga, luas wilayah tanah Luwu yang subur yang antara wilayah satu dengan lainnya meski terpisah secara administratif pemerintahan, tetapi masih kohesif secara budaya dan adat istiadat
Keempat, cita- cita menjadikan Tana Luwu ke depan sebagai Provinsi harus menjadi komitmen bersama dan menjadi tekad bersama untuk kepentinga Tana Luwu ke depan
Kelima, rencana Wali Kota Palopo membangun menara Payung Luwu harus menadi simbol dan ikon pemersatu yang fungsional secara ekonomi dan budaya yang bisa dibanggakan, dengan catatan pembangunannya harus akuntabel dan transparan untuk kepentingan rakyat Luwu Kedepan. Paling tidak, menara payung itu, bisa menjadi kebanggaan budaya yang senantiasa merawat perjuangan rakyat Luwu ke depan, khususnya dalam memperjuangkan Provinsi Tana Luwu sampai terwujud sampai kapan pun dan oleh generasi Luwu yang keberapa pun. Wallahu A’lam Bishawwabe. *)
Penulis adalah perintis/pendiri FISIP UNANDA Palopo. Saat ini tinggal di Jakarta sebagai Komisioner KPI Pusat



Click to comment

Most Popular

To Top