Opini

Tai Sapi Isnul Dan Demokrasi Substansi

ilustrasi

By : Andrie Islamuddin

Penghujung Januari 2020 Pekan ini warganet Palopo dikagetkan dengan informasi yang penuh pro kontra. Isnul, seorang anak muda memberi kado berupa kotoran (Tai) hewan ternak sapi kepada anggota Dewan yang terhormat yang berkantor di lembaga DPRD Kota Palopo.

Apa yang dilakukan Isnul mungkin ada yang menolak dengan alasan sebagai orang timur yang masih mengedepankan etika sipakatau dan sipakalebbi. Apa yang dilakukan dgn kado kotoran ternak itu pasti dinilai sangat tidak beretika.

Dilain sisi apa yang dilakukan Isnul dan di dukung kuat pemberitaan insan pers di kota itu, tak sedikit pula yang mendukung dengan berbagai alasan

Saya sempat melakukan komunikasi dengan mempertanyakan apakah ada motif politik dibalik manuver tai sapinya itu. Singkat Isnul yang saya kenal sebagai penjual buku di Toko Buku Akalanka menegaskan, dirinya hanya menyampaikan aspirasi masyarakat. Tidak ada motif lain, tulisnya

Isnul tentu saja akan dibenarkan atau akan disalahkan bagi sebagian yang lain. Tetapi bagi saya bukan soal pro kontra.

Yang mendasar disikapi dari kejadian itu sesungguhnya adalah apa yang terjadi dalam spektrum komunikasi politik antara warga dan elit politiknya di Palopo saat ini? Apakah terjadi penyumbatan ?

Mari kita lihat…
Lembaga DPRD adalah tempat berkumpulnya politisi wakil rakyat. Hanya sayang dalam konteks kekinian, jika mau jujur kita bedah, dengan menerima gaji ratusan juta setahun aktivitas mereka, justru lebih cenderung melayani eksekutif ketimbang mendengar keluh kesah masyarakatnya.

Mereka sibuk meletakkan rapat, studi banding, konsultasi untuk membuat produk Perda yang notabene didorong eksekutif.

Pembahasan Ranperda melalui Pansus ini tidak main2 biayanya sampai rstusan juta. Karena seperti anak TK yang diajak melihat sesuatu diluar tempat belajar dan bermainnya, para anggota DPRD juga akan studi banding dengan bergerombol. Tak pede malah untuk pergi sendiri. Tak pelak uang rakyat terkuras hanya karena konsultasi di Jakarta atau ditempat lain yang durasi waktunya tidak lebih dari 2 sampai 3 jam saja

Dilain sisi, produk yang mereka hasilkan pun akhirnya tidak tersosialisasi di masyarakat. Karena begitu di ketok palu disahkan, Perda itupun jadi lembaran buku yang disimpan di lemari perpustakaan hingga usang dan rusak dimakan rayap. Jadi makanan rayap yang mahal karena harganya ratusan juta rupiah

Isnul tentu paham alur kerja politisi Kota Palopo itu karena polanya itu-itu saja. Letakkan kegiatan pembuatan Perda, pakai uang rakyat ratusan juta untuk studi banding 2 sampai 3 jam, pulang dan mengesahkan. Lalu membahas lagi Ranperda yang baru,

Tanpa sadar wakil rakyat tersebut sudah jarang mengunjungi konstituen yang membutuhkan perhatian, yang hanya butuh untuk ngopi bersama, karena rajin sekali keluar daerah. Tak pelak jadilah para wakil rakyat yang di pilih melalui demokrasi prosedural itu akhirnya menjauh dari hal-hal yang bersifat substansi dari sebuah proses demokrasi.

Dengan pemberian kado kotoran hewan ternak oleh sosok Isnul sejatinya menjadi introspeksi bagi para wakil rakyat, apakah mereka sudah menerapkan demokrasi substansi di rumah wakil rakyat.

Apakah mereka sudah menjadikan diri sebagai wakil rakyat berkualitas yang memperjuangkan hak-hak konstituennya sehingga marwah rumah wakil rakyat betul betul di hormati seperti label yang mereka sandang sebagai sosok ANGGOTA DEWAN YANG TERHORMAT.

Kita tidak ingin wakil rakyat yang kita pilih seperti yang dikatakan epilog Agus Noor dalam anekdot politisi, dimana banyak oknum politisi yang berada di parlemen justru menjadi bagian dari masalah yang harus diselesaikan.

” Ingatlah bagi sebagian oknum politisi apabila ada masalah, ia akan menutupinya dengan masalah baru agar masalah lama tertutupi. Bagi politisi masalah itu bukanlah sebuah masalah baginya, sepanjang masalah itu menguntungkan karir politiknya.

Orang bijak mengatakan, banyak politisi berjanji ingin mengubah dunia lebih baik lagi, tetapi sayangnya tak ada satupun politisi yang mengubah dunia menjadi lebih baik, ” Kata Epilog Agus Noor

Dengan kado tai sapinya Isnul telah mengingatkan akan hal itu. Mengingatkan bahwa dalam demokrasi prosedural ada demokrasi substansi yang ingin ditegakkan di rumah wakil rakyat. Karena suara rakyat adalah suara Tuhan. Dan mereka adalah Wakil Rakyat, bukan Abdi Penguasa

Isnul…
Tetaplah dalam keyakinan
Bahwa Anda Tidak Sendiri untuk menegakkan Suara Tuhan

#WallahuAlamBisshowab
#WarkopTopoka
#30Januari2020



Click to comment

Most Popular

To Top