Utama

3 Mahasiswa Toraja Tertahan di Wuhan

Tiga mahasiswa asal Toraja dikabarkan masih tertahan di asrama kampus Hubey Univercity di Wuhan Tiongkok. Mereka berada tepat di lokasi wabah virus corona.

Ketiga mahasiswa itu yakni; Rensi Sampebirana, Jelinten, dan Elvani. Tercatat sebagai mahasiswa fakultas kedokteran di Hubey Univercity. Sebenarnya sudah harus libur untuk kembali ke Toraja namun tidak dibolehkan keluar dari kampusnya.

Bupati Tana Toraja Nico Biringkanae mengaku sudah mengetahui keberadaan mahasiswa itu, karena memang ketiganya adalah pelajar yang mendapatkan bantuan beasiswa dari pemkab Tator tahun 2017 lalu melalui kerja sama dengan pihak Yayasan Dahlan Foundation.

Keberadaanya terus diikuti termasuk penanganan medik yang diperlukan jika kembali ke Toraja. Ia sudah berkoordinasi dengan pihak Kementerian Kesehatan melalui Dinas Kesehatan.

“Saya terus memantau termasuk berkoordinasi dengan pihak terkait akan keberadaan mereka, termasuk kebutuhan mereka dan pelayanan kesehatannya, ” ungkapnya di sela-sela kegiatan musrembang yang ia sedang ikuti di Saluputti
Kabar terakhir, Rensi melalui orang tuanya Salempa Sampe Birana menyatakan mereka dalam kondisi sehat dan mendapat perhatian penuh KBRI.

“Kami berterima kasiah atas perhatian dari pemerintah dan tetap berharap untuk terus dipantau, mungkin ada hal penting yang harus dilakukan demi keberadaan mereka untuk tetap sehat dan baik baik saja, ” ujar Salempa, Kamis, 30 Januari.

Sudah 170 Orang Meninggal

Komisi Kesehatan Nasional China mengatakan, Kamis 30 Januari, jumlah kematian yang dikonfirmasi akibat virus corona di negara itu, mencapai 170 orang. Karena jumlah pasien yang terinfeksi, meningkat lebih dari 1.700.

Komisi itu mengatakan, dalam sebuah pernyataan, ada 7.711 kasus yang dikonfirmasi pada akhir hari Rabu, dengan tambahan 12.167 kasus yang dicurigai.
Tiga puluh tujuh dari 38 kematian, baru terjadi di provinsi Hubei. Kematian lain terjadi di provinsi Sichuan barat daya.

Pemerintah asing mulai menerbangkan warganya dari provinsi Hubei China, ketika komisi kesehatan untuk Hubei mengatakan, kematian di provinsi itu meningkat dari 37 menjadi 162. Sementara 1.032 kasus lebih lanjut telah terdeteksi. Sehingga totalnya menjadi 4.586, dikonfirmasi asiaone.com.

Meskipun sebagian besar kasus telah di Hubei, kasus telah terdeteksi di tempat lain di Cina dan di setidaknya 15 negara lain.

Komite Darurat Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) akan mengadakan pertemuan kembali secara tertutup, di Jenewa, untuk memutuskan apakah penyebaran virus yang cepat sekarang merupakan keadaan darurat global.

Vaksin Corona Ditemukan

Para peneliti yang bekerja tanpa lelah, di Hong Kong, telah mengembangkan vaksin melawan virus corona Wuhan yang mematikan.

Ahli mikrobiologi dan ahli yang berpengalaman, Profesor Yuen Kwok-yung, yang juga ketua penyakit menular di Universitas Hong Kong, mengatakan, timnya telah berupaya menemukan vaksin yang layak untuk menghentikan penyebaran virus corona.

Penelitian mereka telah menghasilkan hasil yang signifikan. Karena mereka telah berhasil mengisolasi virus, dari salah satu kasus pertama yang dilaporkan di Hong Kong.
Namun, ada peringatan untuk penemuan vaksin ini.

“Kami telah memproduksi vaksin, tetapi akan membutuhkan waktu lama untuk menguji pada hewan,” kata Profesor Yuen dikutip dari worldofbuzz.com.

Yang berarti, terlepas dari kenyataan bahwa suatu vaksin memang telah dibuat, itu akan memakan waktu lama, sebelum vaksin itu bisa diberikan kepada manusia.

Tidak ada jangka waktu, yang diberikan oleh Profesor Yuen mengenai kesiapan vaksin. Karena pengujian hewan akan memakan waktu berbulan-bulan.

Sementara pengujian manusia, akan memakan waktu setidaknya satu tahun, sebelum dapat dirilis ke publik secara luas.

Vaksin itu sendiri, dimodifikasi dari vaksin semprot hidung, untuk influenza yang juga ditemukan oleh tim Profesor Yuen. Tetapi dimodifikasi dengan bagian antigen permukaan dari virus corona. Secara sederhana, vaksin ini dapat mencegah influenza dan coronavirus Wuhan.(idr)



Click to comment

Most Popular

To Top
.