Opini

Duet Kesombongan

Muhammad Akil Musi (Dosen FIP Universitas Negeri Makassar)

Oleh: Muhammad Akil Musi
(Dosen FIP Universitas Negeri Makassar)

SEORANG sekretaris desa yang masih kerabat bertanya ke saya, “bagaimana seharusnya menjadi pemimpin amanah, sementara masih ada di atas saya?. “Meski saya baik, belum tentu bisa memperbaiki jika atasan saya tidak baik dan saya hanyalah -orang kedua-”. Ada juga seorang teman saya yang wakil bupati berkata, “saya hanyalah seorang wakil bos, apalah daya saya”. Pun saya teringat oleh ucapan seorang sahabatku yang wakil gubernur berkata, “saya hanyalah leher, bukan kepala”.

DALAM skema kekuasaan pada tingkat manapun, seringkali muncul istilah-istilah. Mulai dari “kosong satu”, “kosong dua” dan seterusnya. Ada juga yang sering terdengar jargon “lingkar istana” atau yang paling akrab adalah simbol “ring satu”. Sejak saya masih mahasiswa, ungkapan-ungkapan ini sudah “mengenyangkan” petualangan terutama saat penulis dipercaya sebagai “staf khusus” di sebuah kantor gubernuran di provinsi antah berantah.
Well, Ketika berbicara kekuasaan maka kita semua hampir sepakat bahwa yang paling “hebat’ adalah Firaun. Begitu hebatnya, sampai-sampai ia memproklamirkan diri sebagai Tuhan. Keangkuhan seorang Firaun adalah tipologi kekuasaan. Disaat merasakan kekuasaannya “melimpah” seseorang kadang lupa dimana sementara ia berpijak. Tapi Firaun tidaklah “sendiri” hanyut dalam buaian kekuasaan. Rupanya “Firaun” meski dengan segala kehebatannya masih membutuhkan “para pembisik” yang justru lebih berbahaya dari dirinya, itulah Hamman.

Hamman adalah “orang kedua” yang merupakan pimpinan proyek untuk melawan Tuhan di era Firaun. Begitu hebatnya Hamman, sampai-sampai Allah SWT “menyebut” dirinya dalam beberapa ayat dalam Al Quran. Pun seperti sekarang ini, dalam setiap lingkar kekuasaan, selalu saja ada para pembisik yang racunnya lebih dahsyat daripada si “pemilik” kekuasaan itu sendiri. Karakter seperti inilah yang dicirikan oleh Hamman padahal dia hanyalah “orang kedua”. Tapi rupanya Firaun percaya pada Hamman. Ia dideskripsikan sebagai seorang yang cerdas dan memiliki pengetahuan yang bisa “melegitimasi” setiap kebijakan Firaun. Hamman lah yang memimpik proyek “menara” sebagai tempat berdiri Firaun di saat ia menantang Allah Rabbul Jalil untuk berduel tentang siapa yang berkuasa (Baca QS Al Mukmin: 36). Konon, Hamman lah yang membuat “peraturan pemerintah” bahwa setiap laki-laki yang lahir harus di bunuh karena akan menjadi persoalan di kemudian hari.

Dengan demikian, meski hanyalah seperti the second opinion, tetapi Hamman lah sejatinya yang menjadi “kreator” penguat signal kekejaman seorang Firaun. Ironisnya, meski hanya sebagai “orang dekat”, “penasehat” dan “pendukung”, tapi nasib si Hamman tidak ada bedanya dengan junjungannya Firaun . Mari kita simak ayat Allah SWT berikut ini, “Sungguh, Firaun dan Hamman bersama bala tentaranya adalah orang-orang yang bersalah” (QS 28: 8, baca juga QS 29: 39).

Firaun dan Hamman adalah “duet maut” dalam kolaborasi antara “merasa berkuasa” dan “merasa cerdas”. Kedua hal inilah yang kadang membuat manusia lupa daratan dan hanyut dilautan kesombongan. Hari ini kita tentu tidak berani melawan Allah SWT” dengan kekuasaan dan kepintaran kita, namun “rasa” itu bisa datang dalam hati kita tanpa kita sadari. Kita tidak mungkin “meneladani” Firaun sebab kesesatannya telah nyata. Hanya saja, yang menakutkan adalah disaat kita berada “dalam situasi tidak sadar dalam kesadaran” bahwa ternyata kita telah menjadi “makmun” dari Firaun dan Hamman. Naudzubillahi tsumma naudzubillah. Semoga kita bisa belajar dari “ibrah” duet maut Firaun dan Hamman dalam menyanyikan irama kesombongan dan kedzaliman. Di akhir surah Al Qashas (28), Allah Azzawajalla menutup cerita Firaun dan Hamman seraya berfirman, “segala sesuatu pasti akan binasa dan hanya kepada-Nya kamu sekalian akan dikembalikan”.

***
Nasehat: Kekuasaan (tahta) dan kecerdasan (strata) serta kekayaaan (harta) adalah “ujian” dan kadangkala ketiganya akan membuat seseorang menjadi lupa daratan dan hanyut dalam arus keangkuhan, kesombongan dan kedzaliman.(****)



Click to comment

Most Popular

To Top