Opini

Coronaism dan Takabbur

Oleh: Muhammad Akil Musi (Dosen UNM & Muballig)

Oleh: Muhammad Akil Musi
(Dosen UNM & Muballig)

SEBELUM melanjutkan gagasan tentang takabbur ini, memohon kiranya kepada Allah Yang Maha Akbar agar dijauhkan dari sifat ini. Secara sedehana kata –takabbur- itu terbangun dari kata kibr (kaf, ba dan ra). Kata ini pula yang –kemungkinan- menjadi akbar (besar). Terminologi ta-kabbur adalah -doing- (sedang dalam…).

Secara historis, jelaslah bahwa yang pertama kali “melanggar” kesucian kebesaran ini adalah iblis. Dalam Al Quran disebutkan “abaa wastakbara” (Qs Al Baqarah: 34). Ayat ini diperuntukkan untuk iblis yang enggan bersujud kepada Adam karena Iblis merasa lebih besar. Menurut “perasaan” Iblis, “Saya lebih baik daripadanya, Engkau ciptakan saya dari api sedang Dia Engkau ciptakan dari tanah” (baca selengkapnya kisah “perdebatan” Iblis dengan Allah pada QS Al A’raf: 11-18).

Jika memperhatikan asal katanya maka lawan dari kata takabbur tentulah sugra – sagiiran (kecil). Kalau kita berdoa untuk orang tua kita menyebut kata sagiiro (sewaktu kami kecil). Perspektif perilaku manusia ada satu hal yang bisa didengar yakni ber-”kecil hati”, lawan dari kata sombong, ujub, pongah, angkuh dan mungkin juga terlalu berani atau tidak takut.

So, kembali ke kata takabbur sebagai “main kajian”. Kata “kibr” sebagai “embrio” dari takabbur ini banyak disinggung dalam Al Quran. Setidaknya ada puluhan kali tersebut dalam konteks makna, belum dalam dimensi ayat. Jika sudah menunjuk ayat bahkan mungkin mencapai ratusan. Secara tekstual, diantara penyebutannya adalah bisa dilihat dalam surah Al Baqarah: 34/78, Al An am: 35, Yunus:71:, Kahfi: 5, An Nisa: 6, Al A’raf: 12, dan Nuh: 7 dan tentu masih banyak lagi ayat yang lain yang tidak dapat penulis sebutkan semuanya. Yang pasti bahwa persinggungan ini jelas untuk mencegah manusia agar tidak bersifat takabbur.

“Coronaisme” dan Takabbur
Corona tiba-tiba muncul bahkan membuat “panic” seisi dunia. Bukan hanya orang-orang yang paham bahkan yang tidak pernah sama sekali dengarpun soal virus menjadi takut. Kepanikan ternyata salah satunya karena persepsi. Elemen persepsi menurut teori adalah diantaranya pengalaman (mungkin pernah lihat), pendidikan (mungkin punya ilmunya karena pernah terkait secara akademik) dan pengetahuan. Maka yang seharusnya yang paling takut adalah yang punya ketiga elemen tersebut. Mengapa?, sebab seseorang yang punya persepsi yang baik biasanya akan lebih “realistis. Dalam kasus yang lain, misalnya keberadaan setan tentu suatu keniscayaan. Tapi setan bukan untuk “ditakuti” melainkan diajak “berdamai” dalam eksistensi yang sudah diperintahkan oleh Allah Azza wajalla dalam limit fungsional mengenai penghambaan sebagai mahluk Allah juga.

Tentang virus corona (sebagai ciptaan Allah juga) tidak bisa dipungkiri telah menjelmakan rasa ketakutan dan kekhawatiran. Disinilah diperlukan suatu pandangan yang sedikit beraroma “takabbur”. Tentu bukan karena tidak takut, namun agar tidak terlalu berkecil hati terhadap “ketidaknyataan” ini (baca setan). Takabbur yang dimaksud di sini adalah mencoba melawan rasa dan tidak berkecil hati sehingga mengarah kepada gangguan mental dan emosional. Setiap orang tentu saja boleh membangun persepsi tentang sesuatu sepanjang tidak mengganggu stabilitas orang lain. Lalu jika stabilitas terganggu, maka hal paling bijak adalah menyampaikan secara bijak dan tidak melakukan “judge” sebab menghakimi pun adalah sebuah indikasi ketakabburan. Karena orang hanya menjudge biasanya karena “merasa” memiliki ilmunya atau paham sumber perkaranya.

Makanya yang paling ideal menghakimi adalah hanyalah seorang hakim dan yang paling hakim adalah “alaisallahu biahkamil haakimiin’. Implementasi makna “takabbur” dalam situasi “coronaism” bermakna mempertegas akan “semakin jelasnya” eksistensi Allah SWT sebagai asal dari seluruh alam semesta rabbul alamin. Semoga Allah senantiasa menjauhkan diri dari sifat Iblis yakni takabbur dan senantiasa memberikan perlindungan atas semua marabahaya yang ada dan tentang mahluknya, karena kita hanyalah kecil dan Allah SWT Maha Besar”.(***)



Click to comment

Most Popular

To Top
.