Opini

Ekonomi Melawan Covid-19

Edi Indra Setiawan, SE.,MM
Dosen FEBI IAIN Palopo

Korban Pandemi Covid-19 di dunia terus meningkat, tak terkecuali di Indonesia penanganan terus dilakukan namun selama vaksin anti virus belum ditemukan maka akan sulit untuk mengahadapi Covid-19 ini.

Selain korban jiwa yang terus berjatuhan pandemi Covid-19 juga mengancam terjadinya resesi hingga krisis ekonomi. World Health Organization (WHO) telah mengumumkanstatus darurat dunia atas pandemi virus corona atau Covid-19 di Jenewa pada 30 Januari 2020.

Senada dengan itu,World Trade Organization (WTO) atau organisasi perdagangan dunia juga memberikan peringatan akan terjadinya pelemahanpertumbuhan perdagangan barang dunia, hal ini disampaikan pada senin 17 Februari 2020. Wabah pendemi seperti Covid-19 ini, selain menjadi ancaman kematian juga berdampak kepada pertumbuhan ekonomi dunia.

Menurut Gubernur BIPerry Warjiyo, data Februari 2020 menunjukkan berbagai indikator dini global seperti keyakinan pelaku ekonomi, Purchasing Manager Index (PMI), serta konsumsi dan produksi listrik menurun tajam.

Ekonomi global adalah ekonomi yang saling mempengaruhi. Jika pertumbuhan ekonomi Cina turun 1% maka di Indonesia akan mengalami dampak 0,2 %. Oleh karena itu, saat ini ekonomi di seluruh dunia sedang melawan pandemi Covid-19.

Dampak Covid-19 dan ekonomi Indonesia
Menurutekonom sekaligus Direktur Riset Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Piter Abdullah Redjalam, mengkhawatirkan jika pemerintah tidak bergerak cepat mengatasi penyebaran virus Corona, maka akan menyebabkan Indonesia alami krisis ekonomi berkepanjangan. Para ekonom memperkirakan pertumbuhan ekonomi di Indonesiaakan berada pada 4,5 – 4,8 % di tahun 2020.

Melambatnya pertumbuhan ekonomi Indonesia semakin membuka lebar peluang terjadinya krisis ekonomi yang diakibatkan oleh serangan Covid-19.Menurut Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Bhima Yudhistira Adhinegara,
“Bahkan Tahun 2008 pada saat krisis subprime mortgage di AS, pertumbuhan ekonomi Indonesia tercatat 6,1 persen.

Baru setelahnya turun tajam ke 4,5 persen. Jadi kondisi saat ini jauh lebih beresiko dibandingkan krisis tahun 2008,” Liputan6.com, Senin (16/3/2020).

Perkembangan Covid-19 ini menurutnya, menyebabkan ketidakpastian yang sangat tinggi dan menurunkan kinerja pasar keuangan global, menekan banyak mata uang dunia, serta memicu pembalikan modal kepada aset keuangan yang dianggap aman. Derasnya capital outflow (arus modal keluar) dari pasar modal Indonesia juga menambah kehawatiran kita akan krisis ekonomi di masa depan.

IHSG sendiri saat ini sudah mulai masuk zona merah. Berdasarkan data Bank Indonesia (BI), arus modal keluar dari pasar modal Indonesia tercatat mencapai Rp40,16 triliun per Rabu (11/3/2020).

Pertahanan Ekonomi
Adanya Pandemi global harus membuat kita tetap sadar, karena Tuhan pasti memberikan kita jalan keluar disetiap ujianNya. Jika melihat perdagangan ekspor impor Indonesia di Februari 2020 maka kita akan menemukan surplus neraca dagang Indonesia. Ekspor Indonesia tercatat sebesar US$ 13,9 milliar meningkat 2,24% dari bulan sebelumnya (BPS, 2020). Sehingga hal ini juga adalah peluang bagi pelaku ekonomi untuk melakukan reborn.

Selain itu, melihatPurchasing Manager Index (PMI) Indonesia walau menurun ternyata berada diatas 50 sementara PMI Cina secara umum ada diangka 30. Hal ini menggambarkan kemungkinan pasar-pasar yang selama ini bergantung ke Cina bisa melihat pasar Indonesia menjadi pasar alternatif.

Kejadian pandemi Covid-19 ini berbeda pada saat krisis 2008, saat ini terjadi fluktuasi harga di setiap jenis barang sesuai dengan kebutuhanya sehingga ada barang-barang tertentu yang memiliki demand (panawaran) harga yang melonjak bahkan harganya sangat tinggi namun stok barangnya kosong seperti masker dan obat-obatan.

Maka para pelaku ekonomi harus melihat hal ini bukan untuk mengambil keuntungan yang sebesar-besarnya dan mengorbankan kepentingan umum, tetapi sebagaimana yang diungkapkan Adam Smith bahwaself-interest (kepentingan pribadi)itupenting tapi dengan adanya kepentingan pribadi kita dapat memenuhi kebutuhan orang lain.

Pemerintah harus berupaya keras dalam menjaga kestabilan harga serta memastikan ketersediaan bahan pokok, pangan dan industri. Hal ini terutama mengantisipasi dampak ekonomi terhadap masyarakat dengan ekonomi lemah. Pemerintah bisa mengeluarkan kebijakan fiskal yang menyentuh langsung masyarakat ekonomi lemah.

Pihak swasta juga tetap mendorong pertumbuhan ekonomi dengan segala sumber daya yang dimiliki sehingga disisi lain dapat tetap berdagang namun disisi lainya juga menolong. Jika kita dapat meyakinkan para pelaku ekonomi untuk melihat setiap peluang baik itu sektor riil maupun sektor modal maka kita bisa tumbuh melewati kriisis ekonomi yang ada dihadapan mata bahkan dengan keyakinan para pelaku ekonomi di Indonesia besar potensi kita untuk bisa bertumbuh dari sebelumnya.(*)



Click to comment

Most Popular

To Top
.