Metro

Pedagang PNP Keberatan

-Terkait Larangan Berjualan

DANGERAKKO–Sejumlah pedagang Pusat Niaga Palopo (PNP), siang kemarin menolak terkait penutupan kios berdasarkan surat edaran Wali Kota Palopo yang dikeluarkan beberapa hari lalu. Pada edaran itu, Pemerintah Kota (Pemkot) Palopo memberikan batasan terhadap pedagang untuk berjualan, kecuali pedagan yang berjualan kebutuhan sehari-hari, seperti sembako.

Di PNP, sejumlah pedagang itu melakukan aksi protes meski sudah berjalan 5 hari edaran yang dikeluarkan Wali Kota Palopo. Beberapa pedagang yang sumber mata pencariannya ditutup berkumpul di dalam PNP untuk menunggu kejelasan nasib mereka.

Salah satu pedagang, Mahdi Kasim, mengaku sempat mendatangi rumah jabatan Wali Kota guna meminta kejelasan nasib mereka atau meminta kebijakan kepada Wali Kota Palopo agar ada solusi bagi mereka yang kios/rukonya ditutup. Akan tetapi, kunjungan mereka itu tidak menghasilkan apa-apa.

“Saat mengunjungi pak Wali Kota, menurut penjaga yang ada disana untuk sementara tamu masih dibatasi kunjungannya untuk bertemu dengan Wali Kota terkait pandemic virus Corona,” katanya.

Senada, H. Rusli yang dijumpai Palopo Pos yang berada sekumpulan pedagang lainnya mengatakan bahwa jika tujuan pemerintah menutup kios/ruko kami guna memutus rantai peneyebaran virus corona, mereka sangat setuju. Akan tetapi, mereka merasa jika Pemkot Palopo tidak maksimal dalam penerapan karena masih banyak ruko yang buka baik itu disekitaran pasar maupun yang ada di luar.

“Kami pedagang yang sumber mata pencariannya ditutup merasa dirugikan dengan kebijakan ini karena jika alasan menutup kios kami, lantas akan memutus rantai peneyebaran virus corona itu kami rasa tidak efisien. Karena saat ini, lapak sembako yang ada disini sangat padat bahkan pengunjung maupun pedagan tidak masih banyak yang tidak menggunakan masker/sarung tangan,” kesal H.Rusli yang merupakan pedagang pakaian ini.

Soal penutupan kios/ruko, tambah dia membuat nasib mereka kian memburuk. Apalagi penutupan ini tidak diketahui sampai kapan batas waktunya sedangkan tiap harinya mereka butuh makan lalu. “Demikian tiap bulannya kami harus membayar angsuran Bank/pembiayaaan, tagihan air, listrik dan lain-lain. Kemudian soal keamanan barang kami yang masih ada di dalam kios/ruko siap yang akan bertanggung jawab jika barng kami hilang,” katanya.

Pantauan Palopo Pos, baik di dalam PNP maupun sekitarnya terdapat masih banyak pedagang yang tidak menggunakan alat pelindung diri (APD) meskipun sebelumnya sudah ada edaran dari Pemkot Palopo yang mewajibkan pedagang harus APD, salah satunya masker dan sarung tangan. (mg1/rul)



Click to comment

Most Popular

To Top
.