NEW HOPE

Santo Purnama

Dahlan Iskan. Foto: Ricardo/JPNN.com
2 of 5
Use your ← → (arrow) keys to browse

Ketemu!

Santo tinggal di Silicon Valley, California.

Namun ini sudah hampir jam 12.00 malam –waktu California. Saya pun mikir-mikir: saya hubungi sekarang atau besok saja.

Harus sekarang –siapa tahu besok sudah telat. Begitulah doktrin lama saya.

Bagaimana kalau ia sudah tidur? Tidakkah mengganggu tidurnya? Tidakkah ia sebel menerima telepon selarut malam seperti itu?

Saya pun ingat waktu menjadi pemimpin redaksi dulu. Saya sering minta wartawan mendatangi sumber berita saat jam sudah pukul 23.00 lebih.

Si wartawan tentu enggan. Kok harus wawancara dengan orang yang sama lagi. Kan malu.

Saya tahu, si wartawan juga segan –sudah tengah malam. Bisa dianggap mengganggu orang tidur.

Namun si wartawan juga tahu watak saya. Kalau ia tidak mau berangkat, saya akan berangkat sendiri.

Saya merasa tanpa tambahan wawancara berita tersebut terasa ada yang ‘bolong’. Pembaca akan kecewa kalau ‘lubang’ itu tidak ditutup.

Si wartawan pun berangkat. Tentu hatinya berat. Tapi ya begitulah jadi wartawan.

Ia berhasil. Saat kembali ke kantor saya tepuki pundaknya. Saya berteriak keras di ruang redaksi itu. “Teman kita berhasil,” –agar yang lain ikut bangga padanya.

2 of 5
Use your ← → (arrow) keys to browse



Click to comment

Most Popular

To Top
.