Utama

Kebutuhan Lebaran Kalahkan Ketakutan akan Corona

* Warga Padati Pasar

PALOPO — Dua hari ke depan, kita akan berlebaran. Momen saat ini berbeda dengan tahun sebelumnya. Tak boleh Salat Id di masjid ataupun di lapangan apalagi open house. Langkah ini untuk meredam penyebaran Covid-19. Hanya saja, momen lebaran identik dengan makanan enak, ini yang tidak bisa dihindari. Warga pun memadati pusat perbelanjaan, utamanya pasar untuk berbelanja bahan dan bumbu masakan.

Seperti pantuan Palopo Pos di Pusat Niaga Palopo, Kamis 21 Mei 2020, ribuan warga berjubel, saling berhimpitan di dalam pasar. Imbauan jaga jarak tak dihiraukan. Kebutuhan lebaran lebih penting. Rasa takut tertular virus Corona sudah diabaikan. Seakan warga sudah mulai “hidup berdampingan” dengan Covid-19.
Sejumlah lapak pedagang yang sempat ditutup sejak sebulan lalu melalui instruksi Wali Kota Palopo HM Judas Amir, kembali mulai dibuka.

Warga kian berani, lantaran persoalan kebutuhan makanan lebih penting dari penyakit.
Kepala Pusat Niaga Palopo, Herman saat dikonfirmasi Palopo Pos beberapa waktu lalu mengatakan, keputusan membuka kembali pasar dan mengizinkan pedagan non sembako untuk berjualan kembali itu karena pihaknya tidak tega mendengar keluhan pedagang soal perut dan lain-lain sebagainya.

Keputusan ini juga bukan hanya pihak pasar saja yang mengambil tapi ini diketahui kepala dinas perdagangan selaku pimpinan kami di pasar. Selain itu juga ikut membantu pihak kepolisisan dari Polres Palopo yang ikut memantau kondisi dalam pasar. “Kami mengambil keputusan ini karena ikut prihatin dengan keluhan warga pasar yang mengeluhkan masalah perut dan angsuran mereka di bank yang sampai saat ini masih jalan,” kata Herman.

Selain itu pemukaan pasar tersebut diketahui kepala dinas perdagangan dan dipantau oleh pihak keaman dari kepolisian Polres Palopo guna memantau dan menjaga keamanan, kenyamanan serta mengingatkan para pedagang dan pengunjung pasar agar tetap menerapkan physical distancing serta tetap menggunakan masker.

Jika ada warga yang ingin masuk ke dalam pasar tapi tidak menggunakan masker, ia akan disuruh untuk kembali untuk mengambil maskernya terlebih dahulu sebelum masuk ke pasar.

Mukhlis pedagang kain yang sudah hampir seminggu buka mengucapkan banyak terima kasih kepada pemerintah yang telah memberikan izin untuk membuka kembali lapak dagangan, meskipun pendapatan tahun saat menjelang hari raya sangat minim dan berbeda jauh dari tahun sebelumnya.

“Kami tetap bersyukur. Setidaknya bisa diizinkan berjualan kembali, kini kami tidak terlalu pusing memikirkan persoalan perut dan lainnya,” kata Mukhlis.

Terpisah, pengamat ekonomi Unanda, Rafiqa Assaf SE M.Si mengungkapkan, memang setiap tahun jelang Idulfitri, seakan punya magnet sendiri dalam meningkatkan geliat konsumsi masyarakat.

Khusus di Kota Palopo sebagai sentral perdagangan untuk Luwu Raya dan Toraja, meskipun jumlah penderita positif Covid masih rendah diantara tiga kabupaten, sebetulnya tidak boleh membuat kita lengah dan mengabaikan anjuran pemerintah.

“Kita tidak mau Palopo menjadi daerah episentrum baru Covid-19. Karena itu yang diperlukan adalah kesadaran dari masyarakat sendiri mau pilih sehat atau sakit sebab fenomena penularan masih besar dan risiko ekonomi akan jauh lebih besar apabila penularan berlanjut hingga kuartal III,” pungkasnya.

Sementara itu, menurut pengamat ekonomi Universitas Muhammadiyah (UM) Palopo, Halim Palatte SE M.Si, pergerakan perekonomian Kota Palopo saat sekarang, tidak sebanding dengan tahun-tahun sebelumnya.

Kondisi demikian disebabkan oleh melambatnya distribusi pendapatan di semua sektor aktivitas. Pergerakan transaksi tersebut dibatasi oleh adanya imbauan dari para ulama (MUI) dan ketegasan pemerintah pusat sampai di daerah agar tidak bepergian dan berdiam diri di rumah.

Tujuan pemerintah yaitu, meminimalkan penyebaran Covid-19.
Sekarang ini, pengusaha atau pedagang diberi kesempatan untuk membuka usahanya, namun masyarakat terlanjur kuatir terhadap virus yang mematikan, sehingga sebagian kecil masyarakat yang berani keluar untuk berbelanja secara bebas ditempat terbuka seperti toko, mall, dll. Masyarakat mengurungkan niatnya untuk membeli baju baru, membuat kue, melengkapi perabot rumah, karena tidak ada mudik, bahkan Salat Id belum tentu dilaksanakan di lapangan.

Covid-19 membuat perekonomian menjadi lesu karena perputaran uang dan barang sangat terbatas volumenya. Hanya ASN yang punya penghasilan pasti, sedangkan pengusaha, karyawan swasta, dan buruh penghasilannya sangat minim, bahkan ada yang kehilangan pekerjaan.

Roda perekonomian tersendat. Pemilik badan usaha, seperti toko, rumah makan, travel, Hypermarket, semua menjerit karena omzet penjualan turun sangat drastis.(mg1/idr)



Click to comment

Most Popular

To Top
.