Opini

Lebaran, dan Kesalehan Sosial ditengah Pandemi

Andi Arif Pamessangi

Dosen Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan IAIN Palopo

BAGI Ummat Islam, tanggal 1 syawal merupakan hari kebahagiaan, bagaimana tidak hari ini adalah hari Raya bagi ummat Islam. Hari Raya Idul Fitri yang diyakini mampu untuk mengembalikan manusia pada titik kesuciannya sebagaimana saat dilahirkan oleh ibu kita tercinta. Namun yang menjadi pertanyaan bagi kita. Apakah kita sudah bersih dari dosa, dan mencapai kemenangan. Rasulullah SAW pernah menegaskan“berapa banyak orang yang berpuasa, tetapi tidak mendapatkan apapun dari puasanya kecuali hanya lapar dan dahaga”. Hadits ini memberikan pelajaran berharga pada kita bahwa orang yang telah menyelesaikan puasanya sebulan penuh didalam bulan suci Ramadhan serta merayakan hari raya Idul Fitri, sebenarnya belum mendapatkan jaminan akan kembali suci. Sebab ibadah ritual yang kita laksanakan didalam bulan Ramadhan diharapkan memberikan perubahan besar dan peningkatan pada tingkat keshalehan diri kita, sedangkan pada kenyataannya sebagian besar ummat Islam yang merayakan Hari Raya dihari Idul Fitri belum membawa perubahan besar tersebut pada tingkat keshalehan mereka.

Oleh karena itu hari Lebaran menjadi momentum bagi kita untuk membuktikan bahwa Ramadhan telah memberikan pengaruh besar pada diri kita dengan peningkatan kualitas hubungan kita kepada Allah (hablumminallah) dan sarana kita menebar manfaat kepada sesama (hablumminannaas) serta membuktikan kontribusi kita terhadap tempat kita berpijak yaitu lingkungan (hablumminal’alam). Hal ini hendaklah menjadi nilai dasar dalam kegiatan sehari-hari, sehingga kegiatan keseharian kita menjadi terarah dan menjadi gerakan yang lebih dinamis.

Kesalehan Sosial ditengah Pandemi

Kesalehan dalam diri kita tidaklah cukup dengan ibadah ritual yang kita laksanakan setiap harinya, tetapi hendaknya dibarengi dengan keshalehan sosial yang menjadikan diri kita mampu memberikan manfaat yang banyak kepada orang lain. Ada satu pelajaran yang sangat berharga yang diajarkan oleh Rasulullah SAW kepada kita, dimana konsep ini beliau ajarkan kepada masyarakat Madinah, dan menjadi titah pertama Beliau saat Hijrah ke Yastrib waktu itu, yang kemudian bertransformasi nama menjadi al-Madinah al-Munawwarah yaitu kota yang menjadi percontohan civil socierty, masyarakat madani ummat Islam dimasa rasululullah SAW keseluruh dunia. Hadits ini diriwayatkan oleh Imam at-Tirmidzi (no.2458), ad-Darimi (I/340), Ibnu  Majah (no. 1334 dan 3251), hadits ini juga bisa kita temukan dalam kitab Riyadus Shalihin yang ditulis oleh Imam Nawawai Rahimahullah (no.849), demikian juga dalam kitab Fathul Bari Syarah Shahih al-Bukhari (XI/19) yang ditulis oleh al-Hafidzh Ibnu Hajar. Hadits tersebut berbunyi sebagai berikut:

عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ سَلَامٍ قَالَ: لَمَّا قَدِمَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمَدِيْنَةَ ، اِنْجَفَلَ النَّاسُ إِلَيْهِ ، وَقِيْلَ : قَدِمَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، فَجِئْتُ فِي النَّاسِ لِأَنْظُرَ إِلَيْهِ ، فَلَمَّا اسْتَبَنْتُ وَجْهَ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَرَفْتُ أَنَّ وَجْهَهُ لَيْسَ بِوَجْهٍ كَذَّابٍ ، فَكَانَ أَوَّلَ شَيْءٍ تَكَلَّمَ بِهِ أَنْ قَالَ:  يَا أَيُّهَا النَّاسُ ، أَفْشُوْا السَّلَامَ ، وَأَطْعِمُوْا الطَّعَامَ ، وَصِلُوْا الْأَرْحَامَ ، وَصَلُّوْا بِاللَّيْلِ وَالنَّاسُ نِيَامٌ ، تَدْخُلُوْا الْجَنَّةَ بِسَلَامٍ .

Artinya:

Dari ‘Abdullah bin Salâm, ia berkata: “Ketika Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam datang ke Madinah, orang-orang segera pergi menuju beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam (karena ingin melihatnya). Ada yang mengatakan: Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam  telah datang, lalu aku mendatanginya ditengah kerumunan banyak orang untuk melihatnya. Ketika aku melihat wajah Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam , aku mengetahui bahwa wajahnya bukanlah wajah pembohong. Dan yang pertama kali beliau ucapkan adalah, ‘Wahai sekalian manusia, sebarkanlah salam, berikan makan, sambunglah silaturrahim, shalatlah di waktu malam ketika orang-orang tertidur, niscaya kalian akan masuk Surga dengan sejahtera.”

Afsyu as-salaam, konsep pertama yang diperkenalkan oleh Rasulullah SAW didalam hadits ini adalah pentingnya menyebarkan salam, bahwa setiap muslim hendaknya menjadi sumber keselamatan bagi semua yang ada disekelilingnya, baik itu manusia ataupun lingkungannya. Hal ini menjadi penguatan bagi kita untuk betul-betul menjadi insan rahmatan lil alamin disetiap waktu, tempat, dan keadaan apapun. Ditengah Wabah pandemi Covid 19, setiap muslim hendaknya meresapi ajaran Afsyu as-salaam (menyebarkan salam), oleh karena itu menghindarkan diri dari menyebarkan penyakit kepada orang lain termasuk virus covid 19 adalah bentuk aplikasi dari konsep yang diajarkan oleh Nabi SAW.

 Oleh sebab itu mematuhi himbauan pemerintah untuk stay at home, memakai masker saat terpaksa keluar rumah, menjaga jarak, menjauhi kerumunan, serta mengikuti protokol kesehatan yang jika semuanya itu dimaksudkan untuk menjaga diri kita dari virus agar tidak menjadi penyebar virus tersebut kepada keluarga, tetangga, dan orang disekitar kita serta sebagai upaya hifdzu an-nafs  adalah merupakan pengaplikasian dan ketaatan terhadap konsep Afsyu as-salaam (menyebarkan salam) yang diajarkan oleh Rasulullah SAW.

Selanjutnya rasulullah SAW mengajarkan kepada kita ath’imu at-thaam (berikanlah makan). Konsep ini juga merupakan langkah solutif bagi kita dalam menjawab tantangan sosial yang terjadi ditengah wabah Pandemi Covid 19. Dalam menghadapi wabah ini, masih banyak saudara-saudara kita yang berada dibawah garis kemiskinan, para pekerja harian, para buruh harian, pedagang asongan, pedagang kaki lima, para pelaku usaha kecil dan menegah serta masih banyak yang lainnya yang sangat terdampak dan bahkan menjerit menghadapi sulitnya beban hidup yang mereka tanggung. Oleh sebab itu Momentum lebaran kali ini harus menjadi momentum kita untuk berbagi, meringankan beban saudara-saudara kita.

Sebuah pepatah mengatakan bahwa “satu suapan untuk orang kelaparan itu lebih berharga daripada membangun ratusan masjid”. Bantuan kita kepada saudara-saudara kita dapat kita salurkan dengan berbagai cara yang sudah tersedia didepan kita, baik keapada lembaga dan komunitas sosial penyalur bantuan, panti asuhan maupun membagikannya secara langsung kepada saudara-saudara kita dengan tentu tetap menjaga protokol kesehatan.

Hal yang menjadi penting juga yang ditekankan oleh Rasulullah SAW adalah shilu al-arham (menyambung silaturrahim). Jika membahas tentang silaturrahim rasanya penulis membutuhkan edisi tulisan tersendiri untuk membahasnya secara luas, oleh karena itu dalam kesempatan kali ini penulis hanya memfokuskan pada sebagian kecil aspek menjaga hubungan silaturrahim. Ditengah wabah pandemi yang kita rasakan hari ini, ada aktifitas yang sangat sibuk terjadi, yaitu aktifitas dalam dunia maya, khususnya di media sosial.

Sebagai seorang muslim menjaga hubungan tali silaturrahim adalah kewajiban disetiap tempat, waktu, dan keadaan apapun termasuk di media sosial. Oleh sebab itu menjaga jari tangan kita untuk tidak menyebar ujaran kebencian (hate speech), berita bohong (hoax) serta narasi-narasi yang bisa menyebabkan perpecahan dan keresahan ditengah masyarakat adalah bentuk ketaatan kita kepada Ajaran Rasulullah SAW yaitu shilu al-arham (menyambung silaturrahim), dan merupakan pembangkangan terhadap ajaran Beliau SAW jika kita tidak bisa menahan jari kita untuk membagikan berita-berita serta narasi-narasi tersebut.

Konsep terakhir yang ditekankan Rasulullah SAW dalam hadits ini adalah shalluu bi al-laili wa an-nasu an-niyam (shalatlah pada malam hari sedang orang masih terlelap dalam tidurnya), yang dengan segala kefakiran ilmu penulis memaknainya dengan keihklasan beribadah kepada Allah SWT tanpa mengharap dilihat atau dihargai oleh siapapun selain-Nya. Bahwa ibadah apapun yang kita lakukan orientasinya adalah untuk mendapatkan Ridha Allah SWT. Dalam momentum lebaran tahun ini menjadi kesempatan bagi kita untuk menjadikan ibadah shalat, zikir, puasa, zakat, sedekah, dan ibadah apapun yang kita lakukan dilandasi dengan keikhlasan sehingga menjadikan kita bersemangat dan istiqamah dalam melaksanakannya, serta membawa perubahan besar dalam meningkatan kualitas hubungan kita kepada Allah (hablumminallah) dan sarana kita menebar manfaat kepada sesama (hablumminannaas) serta membuktikan kontribusi kita terhadap lingkungan (hablumminal’alam). Wallahu Subhanahu Wata’ala A’lam. Wassalamu Alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.



Click to comment

Most Popular

To Top
.