Opini

Trik Cetak Uang BI dalam Menjaga Stabilitas Ekonomi

Prev1 of 3
Use your ← → (arrow) keys to browse

Oleh: Mirzalina Zainal

Dosen Departemen Ekonomi Pembangunan, Universitas Hasanuddin

Mahasiswa Program Doktor Ilmu Ekonomi, Universitas Gadjah Mada

Carut marut ekonomi akibat pandemi Covid-19 membuat DPR meminta Bank Indonesia (BI) untuk melakukan cetak uang sebesar 400 – 600 trilliun rupiah. Permintaan ini pun disebut-sebut telah diputuskan oleh DPR. Namun apakah benar cetak uang yang dimaksud BI merupakan cetak uang kartal yang selama ini mengagetkan masyarakat luas?

Cetak uang kartal “printing money” adalah sebuah instrumen moneter yang sudah digunakan sejak berabad-abad lalu. Seluruh bank sentral memiliki kewenangan penuh untuk melakukan cetak uang. Namun risiko yang ditimbulkan dari instrumen ini bisa memicu terjadinya inflasi tinggi bahkan mencapai hyperinflation, yaitu kondisi menggerus nilai uang rill menjadi semakin rendah, terjadi akselerasi tingkat inflasi, dan tidak dapat dikontrol. Kondisi ini akan menimbulkan ketidakstabilan keuangan dan berujung pada ketidakstabilan makroekeonomi secara keseluruhan. Oleh karena itu, besarnya risiko yang timbul akibat instrumen ini membuat para pengambil kebijakan sangat menghindari penggunaanya.

Secara konseptual Bank Indonesia memliki dua kategori kebijakan untuk menstabilkan ekonomi, yaitu kebijakan konvensional dan unconventional monetary policy (UMP). Kebijakan konvensional dilakukan melalui pengaturan tingkat bunga berdasarkan kaidah Taylor, bisa dilihat melalui penentuan suku bunga acuan baik BI rate maupun BI 7Days Repo. Di sisi lain UMP dilakukan melalui metode “Quantitative Easing (QE)” yaitu pembelian obligasi atau surat berharga pemerintah dalam jangka panjang. Metode ini sering disebut sebagai instrumen yang seolah-olah menunjukkan praktik “cetak uang” bank sentral untuk memperkuat ketahanan ekonomi domestik.

Prev1 of 3
Use your ← → (arrow) keys to browse



Click to comment

Most Popular

To Top
.