Utama

Kembali Fitrah

PALOPO — Ramadan telah berada dipenghujung. Umat Muslim sesaat lagi merayakan Hari Raya Idulfitri, setelah berpuasa sebulan penuh.

Idulfitri bermakna dari kata fitrah yang mengandung makna yang begitu dalam dan sangat penting untuk kunci kesuksesan hidup di dunia dan akhirat.

Makna kembali ke fitrah berkaitan dengan bebas dari dosa dan akidah yang lurus. Oleh karena itu banyak orang yang mengumpamakan kembali ke fitrah dengan kembali menjadi seperti bayi yang baru dilahirkan.

Perayaan Idulfitri dilakukan salah satunya dengan melaksanaan Salat Id. Untuk kali ini lebih dianjurkan untuk dilakukan di rumah, sesuai ketentuan pemerintah bersama MUI di tengah pandemi Corona.

Di Luwu Raya, pemda kompak mengeluarkan kebijakan bagi warganya agar melaksanakan Salat Idulfitri di rumah masing-masing, serta tidak menggelar open house. Tindakan ini, semata-mata dikeluarkan untuk menekan penyebaran virus Corona.
Namun, ada juga pemda yang tetap mengizinkan warganya melaksanakan Salat Id di masjid.

Seperti yang dilakukan Pemda Toraja Utara. Bersama forkopimda se-Kabupaten Toraja Utara dalam rapat koordinasi terkait pelaksanaan Salat Idulfitri 1441 H/2020 M, Bupati Toraja Utara, Kalatiku Paembonan mengatakan, pelaksanaan Salat Idulfitri mengacu dan mengikuti imbauan dari pusat dan Pemprov Sulsel. “Kalau memang sangat penting untuk dilakukan, silakan dilaksanakan,” kata Kalatiku.

Lanjut Kalatiku, dari hasil rapat Forum Kerukunan Umat Beragama, pengurus Masjid Besar Rantepao dan MUI Toraja Utara sepakat ,dan siap melaksanakan Salat Idulfitri di masjid, dengan ketentuan melaksanakan secara ketat dan sesuai protokol kesehatan Covid-19.

“Salat Idulfitri silahkan dilaksanakan dengan harus mengikuti protokol kesehatan, dengan ketentuan menjaga jarak satu meter, gunakan masker, cuci tangan sebelum shalat dan tidak usah saling bersalaman,” tegasnya.

Kalatiku harapkan jika masyarakat yang tinggal dekat dengan masjid atau musalla dapat melaksanakan di wilayahnya saja agar tidak terjadi banyak orang yang melaksanakan Salat Id di Masjid Besar Rantepao.

Sementara itu, anjuran Salat Id di rumah terus ditekankan banyak kepala daerah. Salah satunya,
Wali Kota Palopo, HM Judas Amir. Judas menyampaikan, pemerintah pusat dalam hal ini Kementerian Agama, dan MUI Pusat telah menganjurkan masyarakat Indonesia bahwa sebaiknya Salat Idulfitri dilakukan di rumah masing-masing.

“Hindari hal-hal yang ada kaitannya dengan berkumpulnya banyak orang di tengah pandemi covid-19. Kita semua tahu, bahaya dan tata cara terjangkitnya virus ini. Dari orang ke orang,” kata wali kota dua periode itu.

“Saya tidak bisa melakukan hal yang bertentangan dengan aturan yang lebih tinggi, termasuk imbauan ini, maklumat dan sebagainya. Kita adalah perpanjangan pemerintah pusat di daerah. Dan dalam melakoni pekerjaan, kita selalu harus tunduk dalam sebuah peraturan, bahwa apa yang kita lakukan, tidak boleh bertentangan dengan yang lebih tinggi,” tambah wali kota.

Ada juga Bupati Luwu Utara, Indah Putri Indriani yang minta warganya patuhi maklumat yang dikeluarkan MUI, surat edaran Menteri Agama, Maklumat Kapolri, Edaran Gubernur Sulsel, dan imbauan Majelis Ulama Provinsi Sulsel, terkait, pelaksanaan Salat Id saat situasi pandemi COVID-19.

Bupati Lutra mengimbau masyarakat untuk mengikuti anjuran atau maklumat yang sudah dikeluarkan MUI, untuk melaksanakan Salat Id di rumah saja dan tidak di masjid.

“Meskipun tak ada sanksi tegas, tapi saya minta masyarakat harus sadar diri dan tidak berkerumun dan untuk tahun ini tidak melaksanakan Salat Id di masjid dulu, guna mencegah sebaran COVID-19,” kata bupati perempuan pertama di Sulsel ini.

Jikapun pelaksanaan Salat Id tetap dilakukan di tanah lapang atau di masjid, maka harus ada yang menjadi penanggung jawab pelaksanaan. Yang bersangkutan harus membuat Surat Pernyataan, termasuk harus mendata siapa saja jemaah yang hadir.

Pendataan jemaah dilakukan dalam rangka mempercepat dan mempermudah penelusuran kontak atau contact tracing, jika terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.

Sementara itu, Wakil Gubernur Sulsel, Andi Sudirman Sulaiman kembali mengimbau kepada masyarakat, khususnya warga Sulsel untuk melaksanakan salat Idulfitri di rumah demi keamanan bersama di tengah pandemi Covid-19.

“Salat Ied di rumah saja, sudah jelas intruksi dari pusat sebelumnya bahwa salat Ied di rumah saja,” kata Wagub Sulsel di Makassar baru-baru ini.

Adapun persoalan bahwa salat di masjid, kata dia, sebaiknya ditunda dulu. Menurutnya pemerintah tentu telah mengkaji dampak yang akan ditimbulkan bila tetap memaksakan salat di masjid atau di lapangan.

“Kalau saya tunda, kenapa karena sudah ada instruksi dari pusat dan telah melalui pertimbangan. Kita provinsi mengikuti karena kita adalah perwakilan pusat untuk daerah Sulawesi Selatan. Jadi ikuti saja,” sambungnya.

Lebih lanjut, dirinya mengungkapkan, sebagai seorang muslim, tentang masjid dan segala macam mengenai ada intruksi seperti (penutupan masjid), pahala di masjid tetap sama dengan melaksanakan ibadah di rumah di tengah wabah seperti ini.

“Semua persoalan dosa dan sebagainya itu dihitung oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan sebagainya ada pertimbangan khusus, ada ilmu fiqihnya, dan kita mengikuti ke pemerintah. Ini demi mendukung program pemerintah itu yang paling penting poinnya,” tuturnya.

Sudriman menyebutkan agama Islam itu memudahkan, tidak bisa salat di masjid, kita bisa salat rumah bisa berjamaah dengan keluarga. Sama halnya dengan orang sakit, tidak bisa salat berdiri, maka bisa melaksanakan salat dengan duduk.

“Itu merupakan keringanan- keringanan yang diberikan Allah kepada kita, kita harus bersyukur dengan hal itu,” ucapnya.
Tidak bisa kena air, kita bisa tayamun, tidak bisa dua waktu, bisa dikerjakan satu waktu, jadi banyak sekali keringanan insyaallah ikut saja ke Pemerintah dan kita sudah serahkan ke Pemerintah pusat, “Dan kita insya Allah terhitung pahalanya seperti salat berjamaah di masjid,” tutup adik Andi Amran Sulaiman itu.(idr)



Click to comment

Most Popular

To Top
.