Utama

Jalur Lain ke Torut Tuntas Tahun Ini

* Bisa Lewat Bua, Walbar, dan Latuppa

PALOPO — Meskipun jalan penghubung Palopo ke Rantepao terputus di km 23, tetapi warga dapat memanfaatkan sejumlah jalur alternatif, tanpa harus memutar jauh ke daerah Sidrap. Setidaknya ada tiga jalur alternatif yang bisa dilalui warga dari dan ke Rantepao.

Pertama, melalui jalan di Desa Puty, Labokke (Bua) tembus Bastem Utara, lalu ke Rantepao. Kedua, jalan dari Batusitanduk (Walenrang) tembus di Sa’dan, dan Rantepao. Ketiga, lewat Latuppa tembus Bongko (Bastem Utara), dan Rantepao.

Menteri PUPR, Basuki Hadimuljono saat meninjau lokasi longsor di km 23 Battang Barat mengungkapkan akan mempercepat jalur lain menuju Toraja Utara, yakni melalui Kecamatan Bua, Kabupaten Luwu akan segera diselesaikan.

Jalur ini nantinya dapat digunakan secapatnya bagi siapa saja yang ingin ke Toraja.
“Jalur lain dari Luwu akan segera kita selesaikan. Semoga tidak ada kendala,” kata Basuki saat di lokasi longsor.

Penganggaran jembatan permanen jalur Palopo-Toraja juga akan segera dirumuskan.
“Anggarannya akan segera disusun. Kalau untuk bencana seperti ini harus dikebut,” kuncinya.

Gubernur Sulsel, Nurdin Abdullah juga telah mengutarakan, pemerintah Pemprov Sulsel telah membuka jalur baru dari Rantepao ke Bua (Labokke) yang lebih dekat dan medannya juga tidak terlalu ekstrem bagi pengendara baik motor maupun mobil.

Jalur ini telah dilalui Gubernur Nurdin Abdullah November 2019, lalu, mengendarai mobil 4WD, start dari kantor Wali Kota Palopo menuju Rantepao lewat Labokke dan Bastem Utara.

Anggaran Jalan

Terkait anggaran untuk pembukaan dan pelebaran badan jalan jalur ini sepenuhnya menggunakan APBD Provinsi Sulsel tahun 2019 sebesar Rp21.304.665.800 dengan lama pengerjaan 210 hari kerja dimulai sejak 21 Mei 2019, lalu, yang dikerjakan PT Lantoraland.
Jalan ini menghubungkan Bua-Pakkalolo-Bastem Utara-Rantepao, sebagai jalan poros yang akan menghubungkan Bandara La Galigo Bua di Kabupaten Luwu dengan Rantepao, Toraja Utara.

“Jika sebelum pengerjaan jalur tersebut ditempuh sekitar 2,5 jam, maka setelah pengerjaan waktu tempuh jadi lebih cepat sekitar 1 jam,” kata Gubernur Sulsel kala itu.
Jalur ini juga akan membuka wilayah Bastem yang selama ini terisolir. “Kita harapkan juga akan meningkatkan perekonomian di kawasan Luwu Raya, Bandara Bua yang saat ini telah diperluas juga akan menjadi bandara alternatif bagi turis mancanegara yang hendak ke Toraja,” pungkasnya.

Sementara itu, Anggota DPRD Provinsi Sulsel dari Fraksi Demokrat, Fadriaty AS MM kepada Palopo Pos yang dihubungi, Senin 29 Juni 2020 menjelaskan, ada tiga jalur lain yang sedang dikerjakan Pemprov Sulsel ke Toraja Utara selain melalui Battang.

Yakni, lewat Bua tembus di Bastem dan Rantepao. Untuk pengerjaannya awal berupa perintisan sudah semua dikerjakan tahun 2019, lalu.
Kembali di APBD 2020 sebelum Corona juga telah dilakukan proses tender, dan sudah ada pemenangnya.

Dijelaskan Enceng, sapaan akrab Wakil Ketua DPC Partai Demokrat Sulsel ini, untuk anggaran pengerjaan lanjutan poros Bua-Bastem-Rantepao sebesar Rp71 miliar.
“Tahun lalu sudah dianggarkan perintisan dan sudah dikerjakan. Tahun ini (2020,red) tahap akhir dengan anggaran Rp71 miliar. Ini anggaran sebelum Corona ya, tetapi setelah Corona ini kami belum tahu apakah ada pengurangan atau tidak, belum ada laporan ke dewan,” kata Enceng.

Selanjutnya, untuk pengerjaan poros Batusitanduk-Sa’dan-Rantepao, kata Enceng sudah selesai dianggarkan tahun 2019 lalu, dan sudah dikerjakan juga tahun 2019. Hanya saja, ia mengkritisi proyek tersebut. Pasalnya belum setahun selesai dikerjakan sudah rusak. Utamanya pada bagian talud yang sudah terkikis akibat longsor dan banjir. Kondisi ini tentunya berdampak kerusakan badan jalan kembali.

“Jalan poros Batusitanduk tembus Rantepao sudah selesai di tahun 2019, dan sudah rusak-rusak malah. Taludnya tergantung, beberapa badan jalan juga sudah kembali rusak,” sebutnya.

Terakhir, akses jalan Latuppa-Bongko-Pantilang-Rantepao, baru tahun ini (2020) akan dikerjakan. Untuk jumlah anggarannya sebesar Rp18,6 miliar.
Selain itu, ada juga satu paket pembangunan jembatan di poros Bua-Rantepao dengan jumlah anggarannya Rp21 miliar. Terakhir, paket penyelesaian jalan Sabbang-Seko sebesar Rp62 miliar.

Untuk itu, Fadriaty berharap kepada rekanan pelaksanan di lapangan betul-betul memperhatikan kualitas pekerjaan. Jangan seperti di poros Batusitanduk-Rantepao yang belum apa-apa sudah kembali rusak.

Hanya Satu Jam

Salah satu jalan alternatif pascalongsor di Battang Barat adalah lewat Walenrang Barat (Walbar), Kabupaten Luwu. Bahkan, motor dan mobil sudah bisa melewati jalur tersebut (Batusitanduk-Torut). Jarak antara Batusitanduk dan Walbar, hanya 17 km.

“Kira-kira setengah jam dari Batusitanduk ke Walbar. Aksesnya sudah bagus (beton),” kata Sekcam Walbar, Sudirman Gattang, kepada Palopo Pos, Senin, 29 Juni 2020.
Dari Walbar ke Torut, lanjut pria yang akrap dipanggil Obo ini, jaraknya sudah dekat, hanya 13 km. Karena hanya separuh saja jalan yang di beton, sehingga butuh kira-kira setengah jam untuk sampai ke Torut.

“Jika dikalkulasi dari Batusitanduk ke Torut, hanya 30 km. Butuh satu jam lebih untuk sampai kesana (Torut),” terang Obo.
Dari Batusitanduk ke Walbar, tambah Obo, hanya satu jalur dan itu sudah masuk jalur provinsi.

Dari Kecamatan Walbar ke Torut, pengendara masih melewati dua desa, yakni Paranta dan Lamasi Hulu. Hanya separuh saja aksesnya di beton.
“Lamasi Hulu yang berbatasan langsung antara Walbar dan Torut. Dan jalan yang di beton hanya sekitar 10 km dari Batas Torut ke Lamasi Hulu,” pungkasnya.

Ditambahkan, salah seorang putra Walmas yang berprofesi sebagai pengacara di Makassar, Jhody Pama’tan, SH MH berharap ruas jalan Batusitanduk Luwu-Sa’dan Toraja Utara harus juga menjadi prioritas utama Gubernur Sulsel. ”Gubernur Sulsel harus berlaku adil dalam menganggarkan ruas jalan provinsi sejak longsor terjadi hari Jumat lalu 26 Juni 2020,” imbuhnya.

Masyarakat yang hendak ke Rantepao Toraja Utara hanya bisa lewat jalan Batusitanduk Luwu- Sa’dan Toraja Utara, karena jalan di Bua Luwu ke Rantepao belum bisa dilalui oleh kendaraan roda empat atau mobil, dan mungkin akan memakan waktu lama baru bisa akses jalannya bagus.(ded/ary-idr)

Rincian Anggaran Pembangunan Jalan Provinsi di Luwu Raya

1. Poros Bua-Bastem-Rantepao sepanjang 45 km : Rp71 M.
Satu paket pembangunan jembatan : Rp21 M

2. Poros Batusitanduk-Sa’dan-Rantepao sudah selesai dikerjakan tahun 2019.

3. Poros Latuppa-Bongko-Pantilang-Rantepao : Rp18,6 M.

4. Penyelesaian akhir poros Sabbang-Seko : Rp62 M.



Click to comment

Most Popular

To Top
.