Utama

Penerapan Protkes harus Masif

* Kembalikan Palopo ke Zona Hijau, IDI Palopo: Pemberian Sanksi Perlu Dipertegas

PALOPO — Kota Palopo kini menjadi salah satu daerah transmisi penyebaran virus Corona. Oleh pusat sudah dikategorikan zona merah. Untuk mengembalikan ke zona hijau, perlu penerapan protokol kesehatan (protkes) secara masif di segala bidang.

Usai menerima kabar dari pusat tentang status zona merah untuk Kota Palopo dalam penyebaran Covid-19, Wali Kota Palopo, HM Judas Amir langsung menggelar rapat evaluasi penanganan Covid-19, Selasa malam 28 Juli 2020 di Lapangan Tennis Indoor Saokotae, Rujab Wali Kota Palopo.
Wali Kota Palopo rapat bersama forkopimda, camat, kepala puskesmas, OPD, lurah, dan kepala KUA.

Plt Kadis Kesehatan, Taufiq dalam laporannya menyebutkan saat ini terdapat 52 kasus yakni, pasien dalam perawatan14 orang, sembuh sebanyak 33 orang, dan 3 orang meninggal dunia.

Disebutkan Taufiq, tercatat ada beberapa daerah di Kecamatan di Palopo yang jumlah kasus Positifnya paling tinggi yakni Kelurahan Pattene, Sabbang Paru, dan Batupasi yang berada di Kecamatan Wara Utara.

Status zona merah untuk Kota Palopo dilihat berdasarkan penilaian pada empat indikator. Meski demikian Taufiq mengatakan untuk Sulsel Kota Palopo berada diurutan 16 untuk kasus Covid yang dinilai rendah.
Yang pertama indikator tersebut adalah terkait kasus kematian, dimana dari 52 kasus di Palopo memiliki kasus kematian ada tiga kasus.

Dari tiga ini presentasinya 5,7 persen, sementara yang ditetapkan nasional harusnya 4,8%. Kemudian yang kedua, terkait angka positif yang ada kaitannya dengan swab tes. “Dimana semakin yang sedikit yang di tes kemudian hasilnya juga banyak positif, presentasinya semakin tinggi”,
Selanjutnya, ketiga, tingkat kejadiannya, dalam Minggu terakhir dalam kurun waktu satu, dua Minggu memang meningkat, rapidnya langsung meningkat. Terakhir, reproduksi efektif, suatu cara dalam memberi peringkat pada kemampuan penyebaran sebuah penyakit.
Angka yang mengikuti melambangkan jumlah rata-rata orang yang bisa ditulari seorang pengidap.

“Namun dari empat indikator ini akan selalu di evaluasi tiap minggunya terkait kasus Covid-19 di Kota Palopo,” katanya.
Usai menerima masukan, Wali Kota Palopo menyampaikan beberapa hal diantaranya tentang pelaksanaan Iduladha tetap dilaksanakan sesuai keputusan yang diambil beberapa waktu yang lalu. Namun untuk pelaksanaan nantinya protokol kesehatan diperketat lagi.

“Besok atau paling lambat lusa, sudah ada surat pernyataan terkait protokol kesehatan yang akan dilakukan di masjid seperti kesiapan penyediaan hand sanitizer, jaga jarak, dan wajib pakai masker bagi jemaah yang datang,” kata Wali Kota Palopo dua periode ini.

Selain itu, kata Wali Kota, pelaksanaan Salat Iduladha di mesjid agar bisa berkoordinasi dengan unsur keamanan. Dimana setiap masjid ditempatkan petugas keamanan.

“Lurah juga diminta menguasai persoalan, keadaan, dengan membentuk koordinasi RT/RW, Babinsa, Babinkamtibmas, terutama untuk mengedukasi terkait protokol kesehatan serta menghimbau masyarakat agar tidak meninggalkan Kota Palopo,” pinta Wali Kota dengan nada tegas.

Tak hanya itu, Judas juga meminta kepada Kepala Puskesmas agar meningkatkan koordinasi dengan para Lurah, RT/RW terutama fokus pada kontak erat sebanyak 44 orang yang harus di awasi secara ketat.
“Untuk pengawasan yang lebih ketat, jika perlu kita buat posko di tempat isolasi mandiri tersebut,” ungkapnya.

Lebih lanjut Wali Kota, para Lurah juga mengimbau masyarakat agar tidak membiarkan melaksanakan Salat Iduladha kecuali di masjid wilayah masing-masing.

“Penekanan diupayakan supaya orang-orang yang ada di kelurahan tidak pergi kemana-mana untuk berlebaran cukup di masjid yang terdekat dari rumah saja,” tegasnya.

Perwal Normal Baru

Disinggung pula Wali Kota, berdasarkan Perwal Nomor 10 Tahun 2020 saat ini tahapan sosialisasi sudah selesai, dan sekarang adalah tahapan penindakan hukum.

“Oleh karena itu, Satpol segera berkoordinasi dengan Polres dan Dandim untuk dukungan dalam rangka penindakan hukum”, ujar Wali Kota.
Dari apa yang di sampaikan Wali Kota, yang paling penting adalah agar protokol kesehatan diperketat lagi seperti memakai masker, mencuci tangan, dan menjaga jarak.

Diketahui, dalam Perwal Normal Baru nomor 10 Tahun 2020 terkait kebiasaan baru masyarakat Kota Palopo dalam melaksanakan kegiatan dan mengawasi pendatang yang keluar masuk Kota Palopo di tingkat RT/RW. Di dalam Perwal Covid-19 ini, terdapat 9 Bab dan 62 pasal mengatur 13 poin kebiasaan baru masyarakat yang tertera beserta penjelasan dan sanksinya, mulai dari Rp50 ribu hingga Rp1 juta.

Ditambahkan Juru Bicara Penanganan Covid-19, Dr dr Ishaq Iskandar, M.Kes kepada Palopo Pos, Rabu 29 Juli 2020.
Menurut dr Ishak, tiga jurus jitu tersebut diharapkan mampu berhasil masuk ke zona hijau sehingga aktivitas sosial dan ekonomi dapat kembali berjalan dengan produktif, namun tetap aman covid-19.

”Tiga jurus jitu yang dimaksud adalah mendisiplinkan penerapan protokol kesehatan, memperketat pengawasan, dan penegakan sanksi Perwal No.10 Tahun 2020,” jelas mantan Kadis Kesehatan Kota Palopo.

Untuk penerapan protokol kesehatan covid-19, sebut dr Ishak, masyarakat diminta menjaga kebersihan tangan dengan rajin mencuci tangan memakai sabun di air yang mengalir, Jangan menyentuh wajah dalam kondisi tangan yang belum bersih, sebisa mungkin hindari menyentuh area wajah, khususnya mata, hidung, dan mulut. Mengapa? Tangan kita bisa jadi terdapat virus yang didapatkan dari aktivitas yang kita lakukan, jika tangan kotor ini digunakan untuk menyentuh wajah, khususnya di bagian yang sudah disebutkan sebelumnya, maka virus dapat dengan mudah masuk ke dalam tubuh.

Selain itu, terapkan etika batuk dan bersin. Ketika kita batuk atau bersin, tubuh akan mengeluarkan virus dari dalam tubuh. Jika virus itu mengenai dan terpapar ke orang lain, maka orang lain bisa terinfeksi virus yang berasal dari tubuh kita.

”Memakai masker ke mana pun saat berada di luar rumah atau berinteraksi dengan orang lain. Jaga jarak untuk menghindari terjadinya paparan virus dari orang ke orang lain,” jelasnya lagi.

Untuk pengawasan orang luar yang masuk ke daerah perlu diperketat dengan memfungsikan tugas dan fungsi RT/RW di masing-masing wilayah dalam mengawasi warganya, dibawah koordinasi lurah dan camatnya.

”Saat ini, Satpol-PP bersama personelnya tengah melakukan razia di sejumlah fasilitas umum dan juga tempat usaha agar menerapkan prorokol kesehatan. Serta merazia warga yang tidak memakai masker saat melakukan aktivitas di luar rumah,” tuturnya.

dr Ishak menambahkan, dirinya yakin Kota Palopo akan kembali ke zona hijau, namun jika didukung dengan kepatuhan masyarakat dalam menerapkan protokol kesehatan.

Pada rapat evaluasi hadir pula Wakil Wali Kota Palopo, Dr. Ir. H. Rahmat Masri Bandaso, Ketua DPRD Kota Palopo, Hj. Nurhaenih bersama unsur Forkopimda lainnya.

Tak hanya itu hadir pula Sekretaris Daerah Kota Palopo, Drs. Firmanza DP, Kemenag Palopo, HM Rusydi Hasim, Para Kepala Perangkat Daerah Kota Palopo, Para Camat dan Lurah, serta Para KUA se-Kota Palopo.

Lurah Bergerak

Usai mengikuti rakor evaluasi, 48 lurah di Kota Palopo langsung bergerak. Salah satunya seperti dilakukan Kepala Kelurahan Songka, Akmal Bakti S.Sos.

Kepada Palopo Pos, kemarin, ia baru saja rakor bersama tiga pilar Kelurahan Songka, Ketua LPMK, dan para Ketua RT/RW yang intinya akan menindaklanjuti arahan Wali Kota Palopo dalam menekan penyebaran virus Corona.

Hal yang sama juga disampaikan Lurah Batupasi, Imam Darmawan, di hadapan Wali Kota Palopo ia memberikan saran terkait pelaksanaan Salat Iduladha dalam mencegah penularan Covid tersebut diharapkan peran masing-masing Lurah bersama para RT/RW.

Dimana setiap masjid menyediakan sarana tempat mencuci tangan setiap jamaah yang hendak masuk ke masjid, hand sanitizer, masker terutama alat pengukur suhu tubuh yang dalam waktu dekat ini diadakan sesuai perintah Wali Kota.

IDI Palopo

Sementara itu, masukan juga disampaikan dari Ketua IDI Kota Palopo, dr Hamzakir SpB. Kepada Palopo Pos, dokter spesialis bedah ini mengungkapkan, tren peningkatan kasus Covid-19 di Kota Palopo dipengaruhi banyak faktor karena kita (masyarakat Kota Palopo,red) baru mulai terdampak lagi.

Diantara faktor tersebut adalah, Kota Palopo sebagai daerah transit dari luar, apalagi mendekati lebaran Iduladha, arus mudik akan begitu banyak, utamanya yang datang berasal dari daerah transmisi.

Apalagi dengan dibukanya pos penjagaan di batas wilayah, maka akan semakin terbuka peluang masuknya warga dengan membawa virus ini, sekalipun pemerintah kota mengisyaratkan RT/RW berfungsi dengan bagus untuk melaporkan setiap warga yang datang. “Peran RT/RW ini yang harus diefektifkan lebih ketat lagi,” ujarnya dihubungi, Rabu 29 Juli, kemarin.

Faktor lainnya, kata dr Hamzakir, penerapan protokol kesehatan di masyarakat Kota Palopo yang kurang diindahkan. Buktinya dapat kita lihat di cafe, tempat nongkrong penuh warga yang tidak pakai masker dan tidak lagi jaga jarak.

Selain itu, faktor lain, dengan new normal ini, banyak pasien dari luar daerah dirawat di RS-RS di Kota Palopo. Karena RSUD Sawerigading kita ini sebagai RS rujukan di Luwu Raya, pasien yang datang terkadang menyembunyikan hasil pemeriksaannya di tempat asal. “Mungkin pasien ini OTG atau indikasi hasil Rapid-nya reaktif, tetapi karena nantinya takut dirujuk ke Makassar, mereka datang ke Palopo menutup-tutupi hasil itu,” sebutnya.

Untuk itu, sambung dr Hamzakir, ia menyarankan perlu ada protokol kesehatan yang seragam diterapkan di setiap seluruh perkantoran dan tempat di Kota Palopo. “Kalau perlu terapkan sanksi yang tegas kalau ada yang kedapatan ke luar tidak pakai masker, hukum. Selain itu seperti di Makassar dengan menggunakan suket hasil Rapid Test, mungkin di Palopo juga bisa mempertimbangkan itu,” pungkasnya.(rhm-rul/idr)



Click to comment

Most Popular

To Top
.