Ragam

Pengungsi Masih Kekurangan 764 Rumah, KKLR Bersurat ke Bupati Lutra

MAKASSAR— Terkait penyiapan rumah bagi korban banjir Lutra 13 Juli 2020 lalu, pemerintah sedang membangun 400 unit rumah tinggal sementara atau 34,36 persen dari total 1.164 rumah yang rusak berat dan tidak bisa dihuni lagi. Masih terdapat kekurangan 764 unit rumah atau 65,64 persen.

Jika kondisi ini berlangsung dalam tempo yang lama, kami memandang ini berpotensi melahirkan ekses sosial dan juga akan berdampak buruk bagi kesehatan warga di tempat-tempat pengungsian.

Demikian isi surat PB KKLR yang ditujukan kepada Bupati Lutra tertanggal 29 Juli 2020. Surat bernomor 064/PB-KKLR/VII/2020 yang diteken Ketua Umum Pengurus Besar Kerukunan Keluarga Luwu Raya (KKLR), Buhari Kahar Muzakkar bersama Sekretaris Jenderal PB KKLR, Dr Abdul Talib Mustafa MSi di Makassar.

Kepada Palopo Pos via pesan WA, Sabtu, 1 Agustus 2020, BKM (Buhari Kahar Muzakkar) menjelaskan, sehari pasca banjir Sungai Masamba dan Sungai Radda, Kab. Lutra, PB KKLR menurunkan tim melalui Luwu Raya Peduli (LRP) untuk melakukan assesment dan memberi bantuan kepada warga Lutra yang menjadi korban banjir.

Tim ini akan terus bekerja sama relawan lainnya di tempat-tempat pengungsian korban banjir yang berkonsentrasi pada tiga posko yakni di Masamba (kantor Legiun Veteran RI Lutra), di Radda (Jalan Poros Trans Sulawesi), dan lokasi pengungsian Meli.

Dari assesment yang dilakukan selama 14 hari pasca banjir, ada dua hal mendasar yang dipandang penting disampaikan ke Bupati Lutra untuk mendapat perhatian. Yang pertama, terkait penyediaan rumah tinggal sementara bagi korban banjir. Dan kedua, terkait normalisasi sungai.

Dari penelusuran KKLR, terdapat 1.164 yang rusak berat dan tidak bisa dihuni lagi. Dengan rincian, 465 unit di Kec. Masamba, 670 unit di Kec. Baebunta, 28 unit di Kec. Sabbang, dan 1 unit di Kec. Baebunta Selatan.

Jumlah ini tidak termasuk rumah kategori rusak sedang dan ringan,” kata BKM.

Pengadaan rumah hunian sementara yang sedang dibangun pemerintah sebanyak 400 unit. Itu hanya menyelesaikan 34,36 persen dari total kebutuhan tempat tinggal. Ituy berarti masih terdapat 764 atau 65,64 persen yang masih berlum terpenuhi.

Kemudian permasalah penting yang kedua yakni normalisasi sungai. Normalisasi Sungai Masamba menjadi sangat penting dilakukan secepat mungkin dan bersifat menyeluruh. Hal ini didasarkan pada pengamatan langsung Tim KKLR terhadap kondisi sungai dengan sedimen lumpur/pasir dengan kedalaman tujuh sampai sembilan meter. Sehingga sungai ini tidak lagi berfungsi sebagaimana mestinya.

Permasalahan yang bisa terjadi dengan kondisi sungai seperti itu, yakni jembatan Sungai Masamba bisa runtuh. Permukaan sungai semakin lebar dan aliran air yang bercampur pasir pada saat terjadi banjir susulan.

”Karena itu, normalisasi Sungai Masamba dan Sungai Radda merupakan agenda penanganan pasca banjir yang perlu disegerakan,” terang BKM.

”Kedua permasalah tersebut (penyiapan rumah sementara dan normalisasi sungai), menjadi sangat penting dikoordinaskan dengan Kemeterian PUPR dan Gubernur Sulsel untuk penanganan secepatnya,” kata BKM lagi. (ikh)



Click to comment

Most Popular

To Top
.