Utama

2021, Poros Bua-Rantepao Mulus

IDRIS PRASETIAWAN/PALOPO POS

* Tahun Ini, 21 Km akan Diaspal

PALOPO — Doa masyarakat Luwu Raya dan Toraja agar jalanan penghubung kedua daerah ini bisa normal, terjawab. Pascalongsor di Kelurahan Battang Barat, Kota Palopo, Juni lalu, akses roda empat dari dan ke Rantepao terputus.

Gantinya, Gubernur Sulsel, Nurdin Abdullah menjadikan jalan Bua-Rantepao sebagai jalan pengganti. Bahkan Gubernur Nurdin telah mengusulkan ke pusat (KemenPUPR) agar status jalan Bua-Rantepao dijadikan jalan nasional, dan sudah disetujui pusat.

“Sudah disetujui, sudah oke,” kata Gubernur Nurdin Abdullah yang diwawancara di Bandara Lagaligo Bua, Kamis 17 September 2020, pekan lalu, saat menyaksikan pendaratan perdana maskapai Citilink.

Kata Gubernur Nurdin, saat ini proses penyelesaian jalan Bua-Rantepao terus digenjot. Target tahun 2021 sudah mulus untuk dilalui. Ia menyebutkan hingga tahun 2020 ini, dari 64 km panjang poros Bua-Rantepao, baru 21 km yang akan dituntaskan untuk diaspal. Selebihnya 43 km dari Bua ke Rantepao akan ditender Desember tahun ini.

Tinjau Langsung

IDRIS PRASETIAWAN/PALOPO POS

Mengetahui jika jalan Bua-Rantepao ini sudah ditetapkan sebagai jalan nasional, Palopo Pos mencoba untuk melalui jalan tersebut, Sabtu 19 September 2020.

Menggunakan sepeda motor kopling, motor dipacu. Saat memasuki wilayah Desa Posi, Kec. Bua, pendakian terjal menghadang. Selama pendakian gas motor stabil dengan tetap menggunakan gigi 1, sesekali kedua kaki turun untuk menyeimbangkan motor menghindari terpeleset.  Kondisi jalannya lumayan bagus, meskipun masih tanah berbatu.

Jalan ini sudah dilakukan pelebaran ruas menjadi 14 meter. Hanya saja beberapa bagian jalan masih banyak kerikil-kerikil kecil yang terkadang membuat ban motor slip, serta masih ada bagian yang becek.
Butuh kehatian-hatian saat menanjak, dan keahlian menguasai kendaraan serta melihat medan.

Hingga daerah Balla, Kec. Bua, pendakian masih terus dijumpai. Dari atas ini, kami sempatkan menoleh ke belakang. Dari atas nampak pemandangan yang indah dibalut udara sejuk. Mulai dari Bandara Lagaligo, Teluk Bone, hingga sebagian Kota Palopo (Wara Selatan) terlihat jelas.

Di sepanjang jalan ini pula kebun cengkeh banyak dijumpai. Beberapa petani cengkeh yang sempat ditemui saat sedang memetik menuturkan merosotnya harga cengkeh saat ini yang hanya hanya Rp40 ribu per kg. Padahal beberapa waktu lalu sempat mencapai hingga Rp100 ribu per kg. Imran, salah satu petani cengkeh, warga Cilallang mengaku sudah lama tinggal di Balla, dan membuka kebun cengkeh. Hasilnya lumayan banyak, dan dijualnya ke Palopo.

Selepas dari daerah Balla, perjalan diteruskan sampailah ke daerah Desa Mappetajang, Kec. Bastem Selatan, desa pertama yang dijumpai setelah Kecamatan Bua.

Desanya berada di atas gunung. Masyarakatnya tinggal di atas rumah-rumah kayu panggung.
Di desa ini, listrik PLN sudah masuk. Sebelumnya hanya mengandalkan turbin yang digerakkan air sungai.

Selepas Desa Mappatejang, tibalah di Desa Dampan. Di desa ini kondisi jalan poros mulai menurun dengan tingkat kecuraman sangat terjal. Di Desa Dampan pula, ada satu jembatan yang sedang dalam pembangunan.

Untuk informasi, poros Bua-Rantepao ada dua jembatan yang akan dibangun. Satu di Desa Dampan, dan satu lagi di daerah Salu Bua. Anggaran keduanya mencapai Rp20,3 miliar yang dikerjakan PT Genyto Fajar dengan konsultannya PT Arci Pratama. Waktu pengerjaan 270 hari dimulai sejak Maret 2020.

Usai melewati Desa Dampan, akhirnya sampailah di Pantilang, Ibu Kota Kecamatan Bastem Utara (bastura).
Di Pantilang ini, ruas jalan sudah mulus, tinggal diaspal. Kata Kepala Dusun Pantilang, Erlin Bondang Sarira yang ditemui saat melihat pelebaran jalan menuturkan, jalan poros di Pantilang tahun ini akan diaspal, dan jadi percontohan.

Hanya saja, selama pembukaan jalan ini, beberapa kendala yang dihadapi kendaraan membawa material seperti pasir dari Palopo, yang terkadang butuh 2 hari untuk sampai ke Pantilang, lantaran kondisi jalan yang ekstrem, utamanya saat hujan.

Sebagai informasi lagi, saat ini poros Jalan Latuppa ke Pantilang sedang dalam perbaikan. Hanya saja status jalan tersebut agro wisata yang ditetapkan dari provinsi.

Lanjut Kadus Pantilang, dari pelebaran jalan ini, ada 3 KK yang harus direlokasi karena masuk dalam kawasan badan jalan. “Berkat pendekatan kekeluargaan, dan dibangunkan rumah di lokasi yang baru, akhirnya mereka bersedia pindah,” ujarnya.

Ia berharap pengerjaan jalan poros Bua-Rantepao bisa segera rampung. “Kami bersyukur ada pembangunan ini, jadi membuka daerah yang terpencil ini,” ungkapnya.

Dari perjalanan ini, waktu yang digunakan dari Bua ke Pantilang saja membutuhkan waktu sekira 3 jam, untuk sampai ke Rantepao masih membutuhkan 2 jam.

Adapun sstimasi anggaran yag akan digunakan menyelesaikan poros jalan ini sebesar Rp1,36 triliun.(idr)

– Lebar jalan 14 meter.
– Panjang jalan Bua-Rantepao 64 km.
– Estimasi anggaran dibutuhkan Rp1,3 triliun.
– Tahun 2020 sepanjang 21 km mulai diaspal dari Rantepao ke Bastem Utara
– Sisanya 43 km ditender untuk dikerjakan tahun 2021.

Alasan Perlunya Akses Bua-Torut Dibuka

1. Memperpendek jarak tempuh dan waktu tempuh menuju Bandara Bua ke objek wisata di Toraja Utara, dan Tana Toraja.

2. Sebagai jalan alternatif selain lewat Batusitanduk-Rantepao dan Battang Barat-Rantepao.

3. Mendorong potensi pertanian di daerah Bastem.

4. Memperlancar penyebaran produk-produk masyarakat setempat.

5. Mempercepat pertumbuhan ekonomi masyarakat.

6. Bua dan Bastem akan menjadi daerah penyangga bagi Palopo dan Toraja, seluruh produk masyarakat yang ada di wilayah pegunungan Bastem dan Bua bisa dipasarkan secara langsung ke Toraja maupun ke Palopo.



Click to comment

Most Popular

To Top
.