“Laporkan, Jika Ada Warga Idap TBC”

  • Bagikan

Kadinkes: Kita Bersama Harus Berantas Sampai Titik Nol di Palopo

PALOPOPOS.FAJAR.CO.ID, PALOPO -- Dinas Kesehatan Kota Palopo mendorong masyarakat segera melaporkan bila mengetahui ada keluarga atau orang sekitarnya gejala TBC, agar cepat ditangani. TBC ini bisa sembuh, jangan ragu. Bersama kita berantas sampai nol kasus dari Kota Palopo.

''Sebenarnya banyak orang yang terkena TBC tapi tidak mau melaporkan diri atau setidaknya memeriksakan diri, mungkin karena malu, atau tidak tahu dirinya terkena. Padahal seluruh pengobatannya gratis,'' kata Kadis Kesehatan Kota Palopo, Taufiq S.Kep.Ns.,M.Kes kepada Palopo Pos, Kamis 24 November 2022.

Taufik menjelaskan, gejala penyakit TBC sangat mudah dikenali seperti batuk selama dua pekan berturut-turut dan sering mengalami keringat dingin pada malam hari. Dan paling parah ketika batuk disertai darah atau sejenisnya sudah dipastikan itu terkena TBC.

''Bila ada yang menemukan gejala-gejala seperti itu segera laporkan atau paling tidak membawa penderitanya ke puskesmas terdekat dan tempat pelayanan medis untuk ditangani secara cepat guna pengobatan dan penyembuhannya,'' katanya, Kamis 24 November, kemarin.

Sementara itu, dokter spesialis ahli penyakit dalam, dr Risna Rajab, Sp.PD mengatakan, Tuberkulosis (TBC) atau TB merupakan penyakit menular akibat dan umumnya menyerang paru-paru, tetapi juga dapat menyerang organ tubuh lain.

“Gejala TBC ada yang khas dan tidak khas, yang khas seringnya batuk darah, sedangkan yang tidak khas seperti batuk berdahak biasa, penurunan berat badan, dan meriang. Tidak ada salahnya untuk screening ke fasilitas kesehatan untuk mengetahui kondisi jenis batuk.

TBC bukan karena genetik melainkan karena kontak erat, artinya dengan satu rumah kontak dekat dalam waktu yang cukup lama bisa menularkan. Kuman TBC ini memang sudah terbukti tidak tahan terhadap sinar matahari, apabila terkena sinar matahari dalam waktu setengah jam, kumannya yang ada di udara akan mati,'' tutur dr Risna, Dokter Spesialis Penyakit Dalam RSUD Sawerigading Kota Palopo.

Ia menyampaikan penyembuhan TBC, tetap menggunakan obat anti TBC yang telah diterapkan oleh Kementerian Kesehatan dimana pengobatannya mengkonsumsi obat setiap hari selama 6 bulan untuk kasus yang tidak resistensi obat. Tetapi apabila pasien tersebut terkena TB yang jenis resistensi obat makan pengobatannya akan lebih panjang dan dengan kombinasi obat yang lebih kompleks.

“Kuman TB saat menginfeksi paru-paru seperti membangun rumah, batuk berdarah atau tidak tergantung seberapa luas kerusakan yang diakibatkannya, apakah ia mengenai pembuluh darah atau tidak. Semua batuk darah belum tentu TB sehingga harus memeriksakan diri untuk memastikannya dan kita juga selalu mengedukasi masyarakat jika batuk darah segera periksa,” lanjutnya.

“Kalau sudah mengetahui ada yang terdiagnosis TBC, otomatis Puskesmas menyarankan untuk screening satu rumah yang kontak dekat. Meskipun terdeteksi TB, pasien tersebut jika di rumah masih bisa bersosialisasi tentu saja dengan menjaga jarak dan menggunakan masker. Pengobatan TBC ini memerlukan waktu lama sehingga dukungan terhadap pasien terutama keluarga sangat penting, misalnya dengan mengingatkan mengkonsumsi obat, menjaga gizi dan tidak dikucilkan dari lingkungan,” terangnya.

“Kita mesti meningkatkan pengetahuan dan kesadaran bagaimana upaya untuk memutus mata rantai TBC, menemukan orang yang terkena TBC sekaligus mengawal dan melanjutkan pengobatan sampai tuntas sehingga TBC tidak akan menular pada orang lain. TBC ini tidak hanya di paru, kuman TBC bisa menginfeksi semua organ di seluruh tubuh. Alangkah baiknya jika ada gejala segera dibawa ke fasilitas kesehatan terdekat untuk dipastikan apakah sakit TBC atau bukan, apabila memang TBC harus diobati hingga tuntas. TBC bisa sembuh dengan pengobatan yang tepat dan support dari keluarga serta lingkungan juga menjadi point penting” pesannya.(rhm/idr)

  • Bagikan